Custom Search

TUAN KALIAMSYAH SINAGA

oleh: Masrul Purba Sidasuha

Tuan Kaliamsyah Sinaga dan Istri

 

Tuan Kaliamsyah Sinaga, salah seorang tokoh Pergerakan Indonesia dari suku Simalungun yang ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sosoknya hingga kini belum mendapat penghargaan dari pemerintah RI. Beliau adalah pemangku Kerajaan Tanah Jawa di Simalungun, Sumatera Utara hingga meletusnya Revolusi Sosial di Sumatera Timur tahun 1946. Pada masa berdirinya Negara Sumatera Timur, beliau mendapat amanah mendampingi dr. Tengku Mansur sebagai Wakil Wali Negara Sumatera Timur.

Pada tahun 1949 memimpin delegasi Negara Sumatera Timur menghadiri Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Drs. Muhammad Hatta yang beranggotakan Mr. Muhammad Roem, Prof. Dr. Soepomo, dr. J. Leimena, Tuan Kaliamsyah Sinaga, dr. Tengku Mansur, Ir. Juanda, Dr. Sukiman, Mr. Ali Sastroamidjoyo, Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo dan delegasi BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg) dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak. Sebelum konferensi ini berlangsung, sebenarnya Indonesia dan Belanda telah melakukan tiga perjanjian besar, yaitu Perjanjian Linggarjati (1947), Perjanjian Renville (1948), dan Perjanjian Roem-Royen (1949).

 

Konferensi Meja Bundar dipimpin oleh Perdana Menteri Belanda, Willem Drees yang berlangsung dari tanggal 23 Agustus sampai dengan 2 November 1949. Konferensi ini berlangsung melalui perdebatan panjang. Akhirnya, setelah melalui perundingan yang berlarut-larut pada tanggal 2 November 1949 tercapailah persetujuan, sebagai berikut:
1. Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949.
2. Status Provinsi Irian Barat diselesaikan paling lama dalam waktu setahun, sesudah pengakuan kedaulatan.
3. Dibentuknya Uni Indonesia-Belanda untuk bekerja sama dengan status sukarela dan sederajat.
4. Republik Indonesia Serikat akan mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan hak-hak konsesi serta izin baru untuk perusahaan-perusahaan Belanda.
5. Republik indonesia Serikat harus membayar semua utang Belanda dari tahun 1942.
Untuk menindaklanjuti hasil KMB maka tanggal 16 Desember 1949 Ir. Soekarno dilantik sebagai presiden RIS dan pada tanggal 17 Desember 1949 diambil sumpahnya. Pada tanggal 20 Desember 1949, Presiden Soekarno membentuk kabinet RIS yang dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta sebagai perdana menteri.

Keterangan Foto:
1. Tuan Kaliamsyah Sinaga bersama isteri Puang Solimah br Damanik (puteri pemangku Kerajaan Siantar Tuan Sawadim Damanik).
2. Berfoto bersama sebelum menghadiri Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949. Tuan Kaliamsyah Sinaga (berdiri paling kiri), Drs. Muhammad Hatta (duduk paling kiri), dr. Tengku Mansur, (duduk di tengah), Mr. Ali Sastroamijoyo (berdiri paling kanan), dan Mr. Muhammad Roem (duduk paling kanan).
3. Di Den Haag tahun 1949, Tuan Kaliamsyah Sinaga (duduk nomor 2 dari kiri), Muhammad Hatta (nomor 3 dari kiri), dr. Tengku Mansur (nomor 4 dari kiri), Mr. Muhammad Roem (nomor 5 dari kiri), dan Mr. Ali Sastroamijoyo (nomor 6 dari kiri).
4. Muktamar Sumatera yang berlangsung pada Maret 1949 di Medan dalam rangka menghadapi Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tanggal 23 Agustus sampai dengan tanggal 2 November 1949. Kegiatan ini dihadiri seluruh Negara Bagian se-Sumatera. Duduk di meja depan Raja Kaliamsyah Sinaga (tengah), Tengku Hafas dari Bedagai (kanan), dan Tengku Damrah dari Kesultanan Serdang (kiri). Sumber Foto: Ridwan Helmi Ratu Agung.

————————————————————————————————————————————————————————————————–