Custom Search

TUAN BANDAR ALAM

Oleh: Masrul Purba Sidasuha

 

Mengenang kembali Alm Tuan Bandar Alam Purba Tambak yang wafat sekitar 30 tahun yang lalu. Saya pribadi sangat respek dan mengapresiasi segala dedikasi yang telah beliau tunjukkan untuk Simalungun. Ia sangat sedih dituduh sebagai seorang feodal dan menindas rakyat serta jadi sasaran pembunuhan BHL, pada masa hidupnya ia pernah mengatakan “Hunja dalanni hanami feodal, anggo lang mardahan, lang mangan”. Meski ia pernah menjadi Raja Dolog Silou namun status tersebut tidak menjadikan keluarga kerajaan menjadi kaya raya dan memaksa rakyat untuk membayar upeti kepada raja.

Ketika meletusnya revolusi sosial di Simalungun sejak tanggal 3 Maret 1946 hingga datangnya agresi Belanda II tahun 1947, Ia menjadi sasaran pembunuhan Barisan Harimau Liar yang ingin meruntuhkan kerajaan di Simalungun. Pada masa itu, ayahnya Tuan Ragaim Purba Tambak sedang sakit-sakitan. Sesuai keterangan yang penulis peroleh dari putera beliau yaitu Tuan Tanjargaim Purba Tambak tingga di Pematang Siantar. Ia mengisahkan Kerajaan Dolog Silou adalah sasaran terakhir dari BHL, karena ibukota kerajaanya berada di pegunungan akibatnya pihak BHL sangat sulit menjalankan aksinya. Berkat bantuan seorang pengkhianat dari keluarga kerajaan, pada malam hari Tuan Bandar Alam Purba Tambak berhasil tertangkap dan dipenjarakan di Situnggaling Merek. Ternyata ia bertemu dengan Raja Purba (belum diketahui namanya) yang sudah terlebih dahulu dikurung oleh BHL. Keduanya menunggu eksekusi pemomotongan yang akan dilakukan esok harinya. Namun seorang pedagang Cina sebagai mata-mata datang membantu mereka dan melaporkan pada markas Belanda yang terdekat di Kaban Jahe agar segera menyelamatkan mereka. Tidak lama kemudian tentara Belanda datang ke posko BHL dan gencatan senjata antara keduanya tidak dapat dielakkan. Pasukan BHL kalah dan melarikan diri, Tuan Bandar Alam Purba Tambak dan Raja Purba kemudian dibebaskan dari kurungan dan dibawa oleh Belanda ke Kaban Jahe, sewaktu berada di tempat ini ayahnya Tuan Ragaim Purba Tambak pun meninggal.

Sekembalinya Tuan Bandar Alam Purba Tambak ke rumahnya di Pamatang Dolog Silou pada malam harinya, ia melihat kondisi Rumah Bolon sangat sepi, ia lalu mengetuk pintu rumah bolon, ibunya Puang Talainim boru Saragih Garingging lalu mambukanya. Begitu melihat anaknya telah kembali, ibunya tak bisa menahan rasa kesedihannya dan berkata “domma seng dong be bapamu mang”. Mendengar hal itu, Tuan Bandar Alam Purba Tambak hanya bisa bertawakkal dan langsung ke tempat pemakaman ayahnya. Sungguh sedih yang dirasakan beliau, namun ia sangat sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Setelah kondisi Indonesia stabil, tahun 1949 ia kemudian berangkat ke Pulau Jawa untuk menempuh pendidikan di Mid Best School di Malang, setahun kemudian ia melanjutkan pendidikan di SMPTA Jakarta, lalu pada tahun 1951 ia diangkat sebagai Menteri Kabupaten di Magelang (1951). Setelah beberapa lama tinggal di Pulau Jawa, ia kembali untuk mengabdi ke Simalungun, pertama kalinya ia ditempatkan sebagai Menteri Kabupaten di kantor kecamatan di Kisaran tahun 1955. Dari situ ia pindah ke Simalungun dan menjabat Kepala Sub Direktorat Agraria Dati II Simalungun (1959). Setelah masa jabatannya selesai, ia lalu ditugaskan menjadi Kepala Sub Direktorat Agraria Dati II Labuhan Batu. Ia pernah direkomedasikan menjadi Wakil Kepala Direktorat Agraria Daerah Tingkat I Sumatera Utara, namun almarhum menolaknya karena isteri pertamanya sedang menderita sakit sehingga perlu perhatian penuh dari almarhum.

Almarhum termasuk salah seorang pendiri Partuha Maujana Simalungun (PMS) dan juga pernah menjadi ketuanya serta sebagai penggagas gotong model Melayu dan mengkaji sejarah tentang penggunaan batik di Simalungun. Sambil bekerja beliau menyempatkan waktu untuk menerbitkan buku-buku tentang Simalungun, di antaranya:
-Sejarah Simalungun (1982)
-Sejarah Keturunan Silou (Silou Bolag, Silou Dunia, Silou Buntu) (1967)
-Silsilah Purba Tambak (1967)

Beliau wafat tanggal 15 Juni 1986 pada usia 63 tahun, sosok seperti almarhum sangat sulit ditemukan dewasa ini, bahkan orang Simalungun hampir melupakan jasa beliau untuk Simalungun. Saya yakin beliau sangat sedih melihat kondisi generasi Simalungun saat ini yang hidup dengan pragmatisme dan berlomba-lomba memperkaya diri tanpa pernah ada rasa berhutang terhadap Simalungun, sesuai dengan kata pepatah:

Huiskon Laklak
Asal Ulang Pahu
Age Mahua Halak
Asal Ulang Ahu

Diatei tupa

Keterangan Foto:
1. Tuan Bandar Alam Purba Tambak
2. Kedua orang tuanya, Tuan Ragaim Purba Tambak dan Puang Talainim boru Saragih Garingging.

—————————————————————————————————————————————————————————————————