Custom Search

DAMPAK PEMBANTAIAN KELUARGA

KERAJAAN SIMALUNGUN,  PEMBAKARAN ISTANA DAN PERAMPASAN HARTA KEKAYAAN KERAJAAN

TERHADAP KEMUNDURAN SUKU SIMALUNGUN

oleh: Masrul Purba Sidasuha

Sendainya di tanah Simalungun tidak pernah meletus ‘revolusi sosial’ yang menelan korban jiwa ratusan jumlahnya terutama kalangan bangsawaan dari keluarga kerajaan dan partuanon di Simalungun, barangkali orang Simalungun sekarang ini akan menduduki posisi nomor 1 di Sumatera Utara dan menjadi etnis yang sangat diperhitungkan di Indonesia karena keluarga bangsawan yang tewas pada masa itu adalah kaum terdidik yang tingkat intelektualnya sederajat dengan para tokoh pergerakan Indonesia. Meletusnya revolusi sosial sebenarnya tidak hanya terjadi di Simalungun, melainkan seluruh daerah Sumatera Timur mulai dari Langkat, Karo, Simalungun, Deli, Serdang, Asahan, Kualuh, Panai, dan Bilah. Namun hanya di Langkat, Simalungun, Asahan, Kualuh, Panai, dan Bilah saja yang banyak menelan korban, bahkan yang tidak bersalah juga ikut menjadi korban.

Tengku Amir Hamzah seorang pujangga 45 yang merupakan pangeran Kesultanan Langkat salah satu korban yang tewas pada masa berkecamuknya revolusi sosial ini. Ia dibunuh oleh guru bela dirinya sendiri padahal ia adalah seorang yang baik dan tidak pernah terlibat dengan sepak terjang feodalisme. Di Simalungun, korban tewas akibat aksi revolusi sosial diperkirakan ratusan orang jumlahnya, tidak hanya keluarga bangsawan, dokter, guru, dan pegawai kerajaan juga ikut menjadi korban. Adapun raja-raja dan partuanon di Simalungun yang terbunuh pada masa revolusi Sosial, antara lain:

1. Kerajaan Panei
Raja Panei, Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha adalah seorang raja yang baik dan tidak pernah menindas rakyatnya, demikian juga puteranya Tuan Marga Bulan (putera mahkota Kerajaan Panei), ia sudah aktif di pasukan Marsose yang berjuang melawan Belanda. Bersama adiknya Tuan Djautih dan seluruh perempuan dewasa diikat tangannya. Senjata revolver rajamuda turut dirampas. Seluruh isi istana dijarah dan raja, dua puteranya dan28 rakyat yang tidak rela meninggalkan rajanya turut diikat dan dinaikkan kedalam 2 buah truk. Iringan BHL berjalan menuju ke Tigaras, sepanjang perjalanan raja Panei disiksa dan akhirnya seluruh rombongan dibunuh dengan sadis di Nagori dekat Tiga Sibuntuon. Raja Panei Tuan Bosar Sumalam karena memiliki ilmu kebal dan sulit untuk dibunuh, pihak BHL kemudian menghujamkon tombak ke dalam duburnya hingga mengenai jantungnya. Rumah pesanggerahannya di Jl. Sekolah (sekarang Jl. Sudirman) sudah dikuasai BHL dan dijadikan markas mereka. Mobil pribadi raja Panei dirampas dan dipakai Urbanus Pardede yang sudah mengkudeta Tuan Madja Purba sebagai Bupati. Harta raja Panei habis disikat dan istana (rumah panggung berasiterktur semi Melayu) kemudian dibakar. Anakboru Panei Tuan Djademan Saragih Garingging (Tuan Dologsaribu), ayah Prof. Dr. Boas Saragih tewas dibantai dengan kejam. Tuan Naga Panei Tuan Djamonang Purba Sidadolog juga tewasdibunuh. Pembantaian terhadap keluarga raja Panei masih berlanjut sampai bulanApril 1947, putera-putera raja Panei yang sudah aktif di perjuangan yaitu Tuan Margaidup Purba, Tuan Kortas (Tuan Marjandi) dan Tuan Mintari Purba, kerani Kerajaan Panei juga tewas terbunuh.

2. Tanoh Jawa.
Raja Muda Tanoh Jawa Tuan Omsah Sinaga dan saudaranya raja Tanoh Jawa Tuan Kaliamsyah Sinaga selamat dari penculikan BHL dan mereka tinggal di Pematangsiantar. Tetapi saudaranya Tuan Dolog Panribuan Tuan Mintahain Sinaga dan puteranya raja muda Tuan Hormajawa Sinaga (ayah Mayor Jatiman Sinaga) tewas dibunuh BHL beberapa bulan kemudian, yaitu 16 Agustus 1946. Menurut Killian Lumbantobing, mayatnya dicincang dan dicampur dengan daging kerbau serta disuguhkan untuk santapan pasukan BHL. Menurut Tuan Gindo Hilton Sinagamasih banyak korban revolusi sosial di Tanoh Jawa yang masih belumterungkap.

3. Kerajaan Siantar.
Pemangku raja Siantar Tuan Sawadim Damanik pada waktu itu luput daripembunuhan oleh BHL, karena pada waktu itu, beliau berada di rumahnya diPamatang Bandar dilindungi oleh pendatang Batak Toba yang menggarap sawah disana. Tetapi di Sipolha, beberapa kaum bangsawan tewas dibunuh, termasuk tuanSipolha Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik (ayah Tuan Djabanten Damanik).Bangsawan di Sipolha yang paling banyak mengalami pembantaian oleh BHL,berhubung dengan lokasinya yang relatif lebih terisolir di pantai Danau Toba,jauh dari pengawasan TRI. Banyak keluarga tuan Sipolha yang menyelamatkan dirike daerah Parapat bahkan mengungsi sampai ke luar negeri. diperkirakan adaratusan korban mati dibantai oleh BHL di Sipolha. Di Pamatang
Bandar, Tuan Kama Damanik (Tuan Rumah Suah) dan Tuan Yusuf Damanik tewas terbunuh.

4. Kerajaan Purba.
Meskipun raja Purba Tuan Mogang Purba telah mengungsi ke Markas Langit bersama anaknya Tuan Jamin Purba, tetapi keduanya tewas secara misterius. Tuan Jamita Purba dan Tuan Lintar Purba tewas disekitar Tigaras. Semuanyaberlangsung di sekitar bulan April tahun 1947 (agresi kedua). Pantai Haranggaol pada masa itu dikabarkan penuh dengan mayat-mayat manusia yang tewas dibantaidengan sadis, sampai-sampai orang tidak mau memakan ikan dari danau Toba,karena sering kedapatan jari manusia dalam perut ikan itu. Pada tahun 1947pemangku raja Purba Tuan Karel Tanjung gelar Parajabayak tewas terbunuh olehBHL di Haranggaol. Anaknya Tuan Maja Purba pejabat pemerintah RI yang pernahmenjadi Bupati Simalungun (dan dikudeta tokoh PKI Urbanus Pardede pascarevolusi) dan pejabat Gubernur Sumatera Utara. Keturunan raja Purba yang lainMr. Tuan Djaidin Purba pernah menjabat sebagai walikota Medan. Tuan Djomat Purba (Tuan Anggi) terakhir Kolonel TNI aktif memimpin pasukan Blaw Pijper NST (untukmempertahankan diri dari pelaku revolusi). Baik Tuan Mogang dan Tuan Djomat adalahputera Simalungun yang pantas dibanggakan, keduanya adalah anak yang dilahirkanPuangbolon Kerajaan Purba dari Siantar.

5. Kerajaan Silimakuta
Raja Silimakuta yang saudah aktif di Markas Agung juga tewas dan tidak diketahui di mana makamnya, sewaktu mengungsi ke Tanah Karo. Bersama beliau turut tewas dibunuh dokter pertama orang Simalungun dr. Djasamen Saragih (anak Pangulubalei Djaudin Saragih). Keluarga raja Silimakuta kemudian mendirikan tugu baginya di Tigaraja Kec. Silimakuta Barat. Konon mayat Raja Silimakuta dihanyutkan di sungai Lau Dah dekat Kabanjahe. Turut juga ditangkap Pangulubalei Djaudin Saragih abang Pdt. J. Wismar Saragih dan ditahan di Raya Berastagi tetapi beliau mujur masih hidup diselamatkan TRI.

6. Kerajaan Dolog Silou
Raja Dolog Silou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak adalah sasaran terakhir dari BHL, ibukota kerajaanya berada di pegunungan akibatnya pihak BHL sangat sulit menjalankan aksinya. Berkat bantuan seorang pengkhianat dari keluarga kerajaan, pada malam hari Tuan Bandar Alam Purba Tambak berhasil tertangkap dan dipenjarakan di Situnggaling Mereka. Ternyata ia bertemu dengan Raja Purba (belum diketahui namanya) yang sudah terlebih dahulu dikurung oleh BHL. Keduanya menunggu eksekusi pemenggalan yang akan dilakukan esok harinya. Namun seorang pedagang Cina sebagai mata-mata datang membantu mereka dan melaporkan pada markas Belanda di Kaban Jahe agar segera menyelamatkan mereka.

7. Kerajaan Raya.
Nasib naas juga menimpa pemangku raja Raya Tuan Jaulan Kaduk Saragih Garingging gelar Tuan Raya Kahean. Beliau seorang maestro seni Simalungun yang tidak ada tandingannya sampai hari ini dan perintis pembangunan jalan penghubung Sondiraya-Sindarraya. Semasa dia menjabat sebagai penguasa swapraja di Raya,sungguh banyak pembangunan yang dirasakan masyarakat seperti pengadaan listrik dan air minum serta transportasi bus yang diberi nama “Sinanggalutu” dengan rute Pematangsiantar-Pematang Raya. Beliau ditangkap pasukan BHL sewaktu menghadiri acara keluarga saudaranya Tuan Manakraya, bersama Opas Radan Sitopu dan Penilik Sekolah (Schoolopziner) Saulus Siregar. Ketiganya ditangkap dan dibawa ke bawah jembatan Bah Hutailing (dekat Sirpang Sigodang).Opas Radan Sitopu dapat meloloskan diri dengan berpura-pura mati danmenjatuhkan dirinya ke sungai, sedangkan Saulus Siregar dan Tuan Kaduk tewasdipenggal lehernya dan dihanyutkan di sungai Bah Hutailing tersebut. Mayatnya kemudian ditemukan TRI dan dibawa ke Pematangsiantar dan dimakamkan secara agama Kristen di belakang Gereja HKBP Kampung Kristen Pematangsiantar oleh pendeta HKBP. Pada waktu dia meninggal baru dua orang anaknya yang sudah berumahtangga dari 12 orang putera-puterinya. Salah seorang yang terkenal diantaranya adalah Tuan Bill Amirsjah Rondahaim Saragih yang dikenal sebagaiseorang komponis jazz yang lama berdiam di Australia dan Aberson Marle Sihaloho yang dikenal selaku politisi. Tuan Anggi Raya yang dikenal dengan gelar Tuan Pamah (Tuan Pusia Saragih Garingging) memilih bunuh diri di kampung Huta Dolog Merekraya ketimbang ditangkap BHL. Keluarga bangsawan Raya lainnya melarikan diri ke hutan atau tempat yang aman. Turut terbunuh Bisa Lingga, Willem Saragih, Bungaronim Damanik, Parudo Girsang dari Saribu Dolok. Mereka-mereka ini adalahorang yang sebenarnya tidak ada hubungan darah dengan raja Raya, namun tetap menjadi sasaran kebiadaban pasukan BHL.

Tewasnya putera-putera terbaik Simalungun pada masa revolusi sosial tahun 1946 ini adalah awal hancurnya budaya Simalungun, hilangnya para pengayom dan tokoh panutan sehingga menjadikan etnis Simalungun mengalami kemunduran dan memberi ruang bagi etnis lain untuk hidup bebas di tanah Simalungun. Akibat tragedi ini tidak sedikit orang Simalungun yang kehilangan kepercayaan diri dan demi keselamatan nyawa mereka, mereka memilih mengganti marganya dan berbaur dengan etnis lain agar jejak mereka tidak diketahui, ada yang mengaku Toba, Karo, dan Melayu. Kondisi ini turut berperan mengurangi populasi masyarakat Simalungun. Demikian saja uraian singkat dari saya, semoga bisa menjadi pembelajaran bagi generasi Simalungun saat ini dalam menapaki kehidupan yang lebih baik di masa depan. Diatei tupa ma

~ selesai

————————————————————————————————————————————————————————————————-