Custom Search

TOKOH-TOKOH INSPIRATIF

SUKU SIMALUNGUN

(Yang dikumpulkan Neosimalungunjaya.com dari berbagai sumber)

(logo Pemda Simalungun, sumber foto: google)

1

Tuan Bandar Alam Purba Tambak: Salah seorang pendiri Partuha Maujana Simalungun (PMS) dan juga pernah menjadi ketuanya serta sebagai penggagas gotong model Melayu dan mengkaji sejarah tentang penggunaan batik di Simalungun. Sambil bekerja beliau menyempatkan waktu untuk menerbitkan buku-buku tentang Simalungun, di antaranya:
-Sejarah Simalungun (1982)
-Sejarah Keturunan Silou (Silou Bolag, Silou Dunia, Silou Buntu) (1967)
-Silsilah Purba Tambak (1967)

 

Tuan Bandar Alam Purba Tambak wafat tanggal 15 Juni 1986 pada usia 63 tahun. 

~Sumber: Masrul Purba Sidasuha

 

 

—————————————————————————————–0o0————————————————————————————–

2

Djaulung Wismar Saragih Sumbayak: lahir tahun 1888 di Sinondang Utara, kira-kira 3 km selatan Pematang Raya, meninggal dunia 7 Maret 1968. Ia adalah Pendeta Pertama dari suku asli Simalungun. dan seorang Budayawan yang gigih memperjuangkan kemajuan suku Simalungun. Sebagian karyanya adalah terjemahan Alkitab dalam Bahasa Simalungun yang membuatnya menjadi orang Indonesia Pertama yang menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Nusantara – dalam hal ini Simalungun.

Djaulung Saragih Sumbayak dilahirkan dari keluarga terpandang. Ayahnya, Jalam Saragih Sumbayak bekerja untuk Raja Raya, Tuan Rondahaim Saragih Garingging (1828-1891) dan penggantinya, Tuan Soemajan Saragih Garingging (1857-1932), sebagai pembuat sarung senapan, yang membuatnya digelari “Tuhang Sarung ni Bodil.” Ibunya bernama Roggainim boru Purba Sigumonrong dari kampung Raya Dolog.

Memajukan Simalungun

Dj. Wismar berpendapat bahwa kunci kemajuan orang Simalungun ada pada peningkatan kesadaran akan harkat dan martabat dirinya sendiri dan peningkatan taraf hidupnya di berbagai bidang kehidupan, terutama pada wawasan berpikir orang Simalungun melalui budaya baca dan tulis.

Pada tahun 1917 Dj. Wismar Saragih mulai mengusahakan penggunaan buku pelajaran dengan bahasa Simalungun di sekolah-sekolah untuk menggantikan buku yang ada yang menggunakan bahasa pengantar Toba. Hal ini dilakukannya tanpa seizin Pendeta Muller dari RMG di Pematang Siantar (sesuai rekomendasi inspektur pendidikan di Medan) karena pengalamannya dengan RMG yang memarginalisasi suku Simalungun.

Upaya Dj. Wismar Saragih dalam memajukan unsur “hasimalungunan” (ke-Simalungunan) secara konkrit dimulai saat ia masih mengikuti sekolah pendeta di Sipoholon, dengan menerbitkan buku Podah Pasal Marhorja (Nasihat tentang Pekerjaan-1929), diikuti oleh serangkaian buku dalam bahasa Simalungun, yaitu: Panggomgomion (Pemerintahan, 1929), Pitoeah Banggal (Sexuele Leven) (Kitab Tuntunan Kehidupan Seksual, 1938), Partingkian ni Hata Simaloengoen (Kamus Bahasa Simalungun, 1936), dan berbagai buku-buku pelajaran untuk Sekolah Rakyat seperti Sitoloe Saodoran dan Rondang Ragiragian.

Keinginannya untuk memajukan rakyat Simalungun juga mendorongnya untuk berperan aktif mengajar masyarakat Simalungun agar mau bersekolah. Ia juga telah merintis sebuah sekolah sore khusus untuk puteri, suatu hal yang tidak biasa saat itu di bagian daerah manapun di Nusantara. Selain itu ia juga mendorong peningkatan minat baca orang Simalungun dengan mendirikan taman bacaan “Dos ni Riah” dan perpustakaanParboekoean ni Pan Djaporman” di Pamatang Raya (1937). Dj. Wismar Saragih juga mewujudkan kepeduliannya pada kelestarian budaya Simalungun dengan mendirikan Roemah Poesaka Simaloengoen (Museum Simalungun) di tahun 1940 dan sanggar kesenian “Parsora na Laingan” pada tahun 1937.

Usahanya membebaskan bangsa Simalungun melalui kekristenan terutama dilakukan melalui penterjemahan teks-teks Alkitab ke dalam Bahasa Simalungun, hal mana menyebabkan ia dijuluki “Een Simaloengoense Luther” (Luther dari Simalungun). Dj. Wismar Saragih dan beberapa teman-temannya menganggap bahwa laju penginjilan RMG di kalangan Suku Simalungun terhambat karena tidak digunakannya bahasa Simalungun sebagai media pengantar. Karenanya pada peringatan 25 tahun sampainya Injil di Simalungun (2 September 1928) Dj. Wismar Saragih turut merintis pendirian sebuah lembaga bahasa Simalungun bernama “Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen.”

Pada tanggal 13 Oktober 1928 diadakan pertemuan di rumah Djaoedin Saragih di Pematang Raya yang dihadiri oleh 14 tokoh-tokoh Kristen Simalungun. Dalam pertemuan inilah disepakati pendirian badan yang memiliki tujuan untuk melestarikan dan memberdayakan bahasa Simalungun dengan nama di atas.

Selain melalui Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen, Wismar juga turut aktif mendukung berbagai gerakan yang memajukan suku Simalungun seperti Kongsi Laita dan lain-lain.

Partuha Maujana Simalungun

Pelestarian dan pengembangan adat istiadat Simalungun juga mendapat perhatian khusus J. Wismar Saragih. Salah satunya adalah idenya yang menganjurkan penggunaan pakaian adat Simalungun dalam kegiatan ibadah di Gereja, sesuatu yang mengundang kontroversi mengingat para penginjil RMG menganjurkan penanggalan tutup kepala, termasuk Gotong dan Suri-suri (tutup kepala khas adat Simalungun), di dalam masa ibadah di Gereja.

J. Wismar Saragih juga mendirikan lembaga kesenian yang bertujuan untuk memelihara kesenian musik tradisional dan mengembangkannya sebagai lagu Gereja.

Bersama-sama dengan tokoh Simalungun lainnya seperti Haji Ulakma Sinaga dan Rajamin Purba (Bupati Simalungun saat itu) ia kemudian mendirikan sebuah wadah pengetua-pengetua adat Simalungun yang diberi nama Partuha Maujana Simalungun.

Karya-karya Dj. Wismar Saragih

Berikut sebagian dari karya-karya Pdt. Djaulung Wismar Saragih:

  • Tadah ni tondujta: in ma hata ni Naibata rupeita ari-ari (ayat marhasoman hatorangan), Tandjung Pengharapan, 1967.
  • Memorial peringatan pendeta J. Wismar Saragih: marsinalsal, 240 halaman, BPK Gunung Mulia, 1977.
  • Ambilan na madear pasai Toehan Jesoes Kristoes: songon sinoeratkon ni Si Loekas
  • Loopbaan J. Wismar Saragih, 141 halaman, British and Foreign Bible Society, 1939.
  • Portama i tongah djaboe, 59 halaman, Pan Djaporman, 1942.
  • Pasal panggomgomion (pamerentahan), 48 halaman, Comite “Na Ra Marpodah”, 1929.
  • Barita ni toean Rondahaim na ginoran ni halak toean raja na Mabadjan, 79 halaman.
  • Siluah hun pulou Djawa (oleh-oleh dari Djawa), 38 halaman, Adventus, 1950.
  • Roehoet manoeratkon hata Batak Simaloengoen, marhiteihon soerat Boelanda (soerat Latijn): marondolan bani besluit ni Directeur O & E, 27 April 1920, Issue 14246, 24 halaman, 1934.
  • Buei ambilan na binuat humbani buku na pansing padan na basaia, 136 halaman, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 1957.
  • Partingkian ni hata Simaloengoen: Simaloe-ngoen Bataks verklarend woordenboek, 280 halaman, Comite “Na Ra Marpodah Simaloe-ngoen,” 1938 (mulai diproduksi oleh Zendingsdrukkerij pada 1936).
  • Padan Na Baru, bersama Petrus Purba dan LAI, 403 halaman, LAI, 1978.
  • Pardiateihon ma, ise do ia: Goluh pakon pangajarion ni Jesus, bersama Petrus Purba dan LAI, 91 halaman, LAI, 1976.
  • Ambilan na madear mangihutkon si Johannes: indjil Johannes, bersama Petrus Purba dan LAI, 63 halaman, LAI, 1971.

 

Catatan tambahan:

*Pada tahun 1930, Pdt. J. Wismar Saragih pernah menuliskan surat permohonan pada kumpulan Raja-Raja Simalungun yang berkumpul di Pematang Siantar yang meminta agar Raja-Raja tersebut menetapkan marga-marga baru sebagai tambahan kepada marga resmi Simalungun dengan maksud agar semakin banyak marga Simalungun seperti pada suku lain. Walaupun ide tersebut diterima oleh Raja-Raja tersebut namun permohonan J. Wismar Saragih belum disetujui karena belum tepat waktunya.

~Sumber: Wikipedia

 

————————————————————————————0o0—————————————————————————————-

3

Tokoh Pers Soematera: Tuan Saur Girsang ( St. Johannes Girsang) Pemimpin Oemoem Harian Oemoem Soematera Tahun 1929, Terbit Tahun 1929 di Pamatang Siantar.

~Sumber keterangan: Jonder W. Sinaga (fb)

——————————————————————————————-0o0——————————————————————————————–

4

Rajamin Purba, SH., lahir di Bangun Purba, Haranggaol, 22 Desember 1928.

Pernah menjabat Bupati Simalungun pada periode 1960 – 1973. Ia dikenal sebagai bupati yang ideal bagi kabupaten Simalungun dari segi pemikiran, konsep maupun implementasinya di lapangan yang berorientasi kepada aspirasi masyarakat.

Rajamin Purba, SH menjadi Bupati Simalungun saat usianya baru 32 tahun. Masih sangat muda untuk ukuran calon-calon bupati yang muncul sekarang ini. Bukan karena usia, maka seseorang menjadi matang. Sebuah pelajaran bagi para calon bupati. Dalam usia muda (37 tahun), beliau begitu banyak melahirkan konsep-konsep budaya, keagamaan dan pendidikan jangka panjang bagi kabupaten ini.

Di bidang pendidikan Rajamin adalah pendiri Universitas Simalungun (18 September 1965), dalam pembangunan masyarakat desa oleh gereja beliau turut membidani pendirian Pelayanan dan Pembangunan (Pelpem) GKPS (15 Januari 1965). Kita masih bisa saksikan sekarang ini. Penyediaan tanah dan konsep implementasi bagi pendidikan dan rumah ibadah dilakukannya tanpa sedikitpun itu menjadi miliknya.

Penyediaan 33 hektar tanah untuk GKPS di Jalan J Wismar Saragih, 38 hektar tanah untuk Universitas Simalungun (USI) di Pematangsiantar adalah usaha-usaha beliau semasa menjabat Bupati Simalungun untuk fasilitas keagamaan dan pendidikan. Tidak ada satu meterpun aset pribadinya terdapat di sana, atau di sekeliling lokasi itu. Beliau berjuang untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya–tidak hanya berfikir jangka pendek, apalagi untuk pribadinya. Tak ada peninggalan harta pribadinya yang menonjol di Simalungun, meski dia menjabat bupati selama 13 tahun.

Kini, karya-karyanya semuanya menjadi asset yang bisa dinikmati banyak orang.
Walau usianya hanya 49 tahun (meninggal 1977) Rajamin telah mengukir sebuah teladan yang dapat dibanggakan dan perlu dipelajari generasi sekarang ini.

~ Jannerson Girsang

Catatan: Rajamin Purba, SH., juga merupakan salah satu Penggagas Lahirnya Partuha Maujana Simalungun (PMS).

————————————————————————————0o0——————————————————————————————–

5

Tuan Taralamsyah

Tuan Taralamsyah – Maestro Tari Simalungun, adalah Bangsawan Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun. Ia lahir di lingkungan Rumah Bolon (Istana) di Pamatang Raya-Simalungun, Sumatera Utara, 18 Agustus 1918. Wafat di Jambi 1 Maret 1993.

Menyelesaikan pendidikan formal di Holandse Inlandse School (HIS) Simalungun.)

Mulai mempelajari tari dan musik tradisi Simalungun pada tahun 1926. Antara tahun 1928-1935, ia mempelajari alat-alat musik barat seperti biola, gitar dan lain-lain. Aktivitasnya di dunia tari, antara lain pernah memimpin Badan Kesenian Simalungun di Medan dan membantu M. Sauti menyusun tari-tari Melayu seperti Kuala Deli, Mainang, Tanjung Katung, dan lain-lain (1952-1953). Setahun setelah mengikuti misi kesenian RI yang pertama keluar negeri pada tahun 1954, ia melatih tari Melayu dan tari-tari daerah Sumatera Utara di Medan. Tahun 1960-1965, ia mengadakan pertunjukan keliling tari dan musik dengan orkes ‘Na Laingan’. Melatih rombongan Sabang-Merauke untuk tari Haroan Bolon pada pembukaan Ganefo di Jakarta, dan menyusun tari‘Tembakau’ untuk siswa bidan Rumah Sakit PPN Tembakau di Medan.

Dalam ranah tari Simalungun, tercatat telah banyak jenis tari lahir dari koreografinya diantaranya tari‘Sitalasari’ (1946), ‘Pamuhunan’‘Simodak-odak’‘Haro-Haro’(1952), ‘Sombah’ (penyelarasan tor tor Sombah, 1953), ‘Runten Tolo’ (1954), ‘Nasiaran’ (1955), Makail’‘Manduda’ (1957), ‘Haroan Bolon’ (1959), ‘Uou’(1960),‘Tembakau’ (1964), Panakboru Napitu‘Oratorium Kelahiran Nabi Isa’ (1966), Sendratari ‘Yasin’(1967), ‘Erpangir’ (1968), Sendratari Ramayana dalam gaya tari dan musik Melayu (1970), serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.

Sedangkan aktivitasnya di dunia seni suara antara lain menjadi pemimpin kelompok musik Siantar Hawaiian Band di Pemantang Siantar, Sumatera Utara. Pernah rekaman yang menghasilkan 6 piringan hitam (ODEON), berisikan lagu-lagu daerah Simalungun dan Karo dan memimpin orkes keroncong di Pematang Siantar (1936-1941). Menjadi pemimpin musik pada kelompok musik Siantar Geki (1942-1946). Membantu musik tentara di Kutaraja (1949-1951). Setelah mengadakan siaran berkala lagu-lagu daerah Simalungun di RRI Medan, pada tahun 1959 ia membentuk orkes Na Laingan untuk musik Simalungun dan merekam 2 piringan hitam Lokananta yang berisi lagu-lagu Simalungun dan Karo.

Sebagai pencipta lagu, tercatat ia telah banyak menciptakan lagu Simalungun, seperti: Lagu ‘Eta Mangalop Boru’‘Parmaluan’‘Hiranan’‘Inggou Parlajang’‘Tarluda’,‘Parsonduk Dua’Padan Na So Suhun’‘Tading Maetek’, ‘Pamuhunan‘Paima Na So Saud’‘Sihala Sitaromtom’‘Sanggulung Balunbalun’‘Ririd Panonggor’‘Marsalop Ari’‘Mungutni Namatua’,‘Pindah-Pindah’‘Inggou Mariah’‘Uhur Marsirahutan’‘Poldung Sirotap Padan’‘Bujur Jehan’‘Simodak Odak’ (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya. Beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti ‘Parsirangan’, ‘Doding Manduda’ (ilah tradisi dari Ilah I Losung), ‘Ilah Nasiholan’, ‘Marsigumbangi’ dan ‘Na Majetter’ (ilah tradisi dari Ilah Bolon).

Pernah diperbantukan kepada pemerintah daerah Jambi oleh Pangkowilhan Sumatera Utara untuk membina kesenian setempat. Melatih dan membawa kesenian daerah Jambi untuk pembukaan Jakarta Fair (1972).

Menikah dengan dengan Siti Mayun br Regar pada tahun 1944, dikaruniai 3 orang putra dan 9 putri. Wafat pada 1 Maret 1993 di Jambi, saat sedang menyusun dan  ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an

Karya Tari:
Sitalasari (1946),
Pamuhunan (1952),
Simodak odak (1962),
Haro-haro (1952),
Sombah (1953),
Runten Tolo (1954),
Nasiaran (1955),
Makail (1957),
Manduda (1957),
Haroan Bolon (1959),
Uou (1960),
Tembakau (1964),
Panakboru Napitu (1966),
Oratorium Kelahiran Nabi Isa (1966),
Sendratari Yasin (1967),
Erpangir (1968),
Sendratari Ramayana dalam gaya tari dan musik Melayu (1970)

Karya Musik Berupa Lagu:
Eta Mangalop Boru,
Parmaluan,
Hiranan,
Inggou Parlajang,
Tarluda,
Parsonduk Dua,
Padan Na So Suhun,
Tading Maetek,
Pamuhunan,
Paima Na So Saud,
Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun,
Ririd Panonggor,
Marsalop Ari,
Mungutni Namatua,
Pindah-Pindah,
Inggou Mariah,
Uhur Marsirahutan,
Poldung Sirotap Padan,
Bujur Jehan Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih),

Karya Lagu yang digubah kembali:
Parsirangan,
Doding Manduda (gubahan ilah tradisi dari Ilah I Losung),
Ilah Nasiholan, Marsigumbangi,
Na Majetter (gubah ilah tradisi dari Ilah Bolon)

Sumber: https://budayadansejarahsimalungun.wordpress.com/tokoh-simalungun/taralamsyah-saragih/

—————————————————————————0o0———————————————————————————————————-

6

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan: dilahirkan pada tanggal 23 September 1933 di Lingga Julu, Karo, Sumatera Utara. Beliau merupakan sosok yang sangat mencintai suku Simalungun dan juga Karo, masa hidupnya dihabiskan untuk mengkaji budaya Simalungun dan Karo.

Beliau menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Pajajaran Bandung (1962), menyelesaikan Pasca Sarjana Linguistik di Rijks Universiteit Leiden Nederland (1971-1973).

Beliau meraih gelar doktor dalam bidang linguistik pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975) dengan disertasi berjudul Morfologi Bahasa Simalungun.

 

 

Beliau pernah mengatakan bahwa bahasa Simalungun merupakan bahasa penghubung antara bahasa Batak utara dan bahasa Batak selatan. Karena bahasa Simalungun berada di pertengahan dan bahasa Simalungun mewakili sejumlah kosa kata yang terdapat pada kedua rumpun tersebut.

Ada 19 Karya Tulis Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan yang Sangat Berguna bagi Simalungun seperti:

1. Struktur Sosial & Organisasi Sosial Masyarakat Simalungun.

2. Morfologi Bahasa Simalungun.

3. Umpamani Simalungun (Peribahasa Simalungun).

4. Umpasani Simalungun (Pantun Simalungun).

5. Hutintani Simalungun (Teka-Teki Simalungun).

6. Perbandingan Kata Tugas Bahasa Simalungun dan Bahasa Indonesia.

7. Sumbangan Bahasa Simalungun Terhadap Bahasa Indonesia Khusus Dalam Bidang Morfologi: Thesis Diajukan Untuk Memperlengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana.

8. Morfologi Kata Kerja Dalam bahasa Simalungun.

9. Pengantar Fonologi Bahasa Simalungun.

10. Pengantar Morfologi Bahasa Simalungun.

11. Perbandingan Morfologi Bahasa Ogan Dengan Bahasa Simalungun.

12. Morfologi kata Benda, Kata Keadaan & Kata Bilangan Dalam Bahasa Simalungun.

13. Perbandingan Morfologi Bahasa Karo dan Bahasa Simalungun.

14. Perbandingan Umpasa Simalungun Dengan Pantun Melayu.

15. Sahap Silumat-lumatni Simalungun.

16. Folklore Simalungun: Cerita Si Jonaha.

17. Folklore Simalungun: Cerita Tuan Sormaliat.

18. Cerita Rakyat Simalungun: Cerita Si Marsingkam.

19. Sitalasari: Bunga Rampai Adat dan Budaya Simalungun.

~ Masrul Purba Sidasuha

—————————————————————————–o0o—————————————————————————————————