Custom Search

Sejarah Singkat Masuknya Para Pendatang ke Simalungun

Oleh: Masrul Purba Dasuha

Masrul2

Mengalirnya gelombang migrasi ke tanah Simalungun berawal dari program pendirian perkebunan di Sumatera Timur yang dimulai oleh Jacob Nienhuys seorang berkebangsaan Belanda pertama kali menjadi pengusaha perkebunan tembakau di Indonesia. Ia tiba pada tahun 1863 dan mendirikan Deli Maatschappij pada tahun 1869 setelah mendapat konsesi dari Kesultanan Deli. . Daerah Simalungun merupakan bagian dari kawasan Sumatera Timur menjadi sasaran perluasan areal perkebunan asing. Daerah Simalungun meliputi Panei, Dolog Batu Nanggar, Sidamanik, Siantar, Bandar, Tanoh Jawa, dan Bosar Maligas adalah tanah subur sangat cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Sejak penandatangan Korteverklaring pada tahun 1907 dengan para raja Simalungun telah merintis jalan bagi perluasan perkebunan asing ke tanah Simalungun.

Antara tahun 1910 dan 1920, pihak Jerman dan Inggris telah mengembangkan onderneming-onderneming teh di sekitar Pematang Siantar. Perusahaan Inggris diwakili oleh Rubber Plantation Investment Trust yang memperoleh konsesi luas dari dari Raja Siantar dan Tanoh Jawa. Langkah ini kemudian diikuti perkebunan Belanda Handels Vereeniging Amsterdam (HVA), untuk memulai pengembangan teh sesudah tahun 1918. Seiring dengan semakin luasnya pembukaan lahan perkebunan di daerah Simalungun sehingga dibutuhkan banyak tenaga kerja, penebangan hutan belantara pada masa itu marak dilakukan dalam rangka perluasan areal perkebunan. Maka didatangkanlah tenaga kerja dari Jawa, Toba, Cina, dan Keling, mereka dipekerjakan dengan cara dikontrak. Dengan adanya penambahan tenaga kerja dari luar membuat kian meningkatnya penduduk di Simalungun, terutama di Simalungun Bawah.

nagur Masrul gbr 14

Pihak Belanda kemudian terbentur dengan ketersediaan bahan pangan untuk kelangsungan hidup para pekerjanya. Mereka lalu mengalihkan perhatian mereka untuk membuka persawahan, orang Toba sejak zaman dahulu dikenal sangat ahli di bidang persawahan kemudian didatangkan kembali secara massal untuk mengolah areal persawahan ini. Para migran Toba ini umumnya berasal dari Uluan, Balige, lembah Silindung, dan Humbang, untuk memudahkan arus migrasi, pihak Belanda kemudian membuka jalan umum jurusan Parapat dan Porsea. pada tahun 1907. Pihak Belanda tidak mau merekrut tenaga kerja dari Samosir, sebab orang Samosir tidak begitu tertarik bekerja di bidang persawahan, mereka sudah terbiasa mencari penghidupan dari di sekitar Danau Toba.

Trik yang dilakukan pihak Belanda untuk menarik minat orang Toba untuk pindah ke Simalungun adalah dengan cara menjanjikan kepada mereka sejumlah jabatan seperti kepala rodi, pangulu, dan raja ihutan. Untuk kalangan orang Toba yang berpendidikan, mereka dipekerjakan sebagai tenaga administrasi di perkebunan, rumah sakit, guru, dan kerani. Selain gelombang migrasi orang Toba, Jawa, Cina, dan Keling, kemudian disusul kedatangan para perantau dari Tapanuli Selatan, mereka memilih bergerak di bidang perdagangan, sebagian ada juga yang menjadi pegawai administrasi di perkebunan dan lingkungan kerajaan di Simalungun. Berbeda dengan orang Simalungun, mereka kurang tertarik sebagai tenaga kerja kolonial karena dianggap pekerjaan berat yang sangat melelahkan. Mereka lebih memilih mengolah ladangnya sendiri yang dirasa lebih ringan dan bebas tanpa ada tekanan dan aturan dari para pengusaha perkebunan. Kelompok masyarakat peladang ini dalam struktur masyarakat Simalungun disebut dengan Parhauma atau Paruma.

Namun demikian, pada masa tertentu mereka tidak bisa mengelak dari kewajiban bekerja untuk raja. Selain bekerja untuk raja, orang Simalungun juga diwajibkan mengikuti kerja paksa (rodi) untuk gubernemen. Hanya keluarga kerajaan yang terbebas dari kewajiban ini. Orang Simalungun yang merasa keberatan hanya sedikit keberanian untuk untuk melawan sebab mereka tidak didukung oleh pemimpinnya. Orang Simalungun sangat patuh dan takut pada rajanya, sebab seorang raja dalam persepsi orang Simalungun adalah manifestasi dari Tuhan (Naibata) yang memerintah bumi, pada zaman dahulu orang Simalungun menyebut Tuan dengan Tuhan atau secara jamak disebut Tuhanta dan juga Rajanami atau sering disingkat Janami.

Hal ini terbukti ketika Pdt Guillaume berkunjung ke Pamatang Purba pada tahun 1905 untuk mengabarkan Injil, dia bertemu dengan Raja Purba Tuan Rahalim. Raja Purba lalu menyuruhnya agar memulai memberitakan Injil di Purba Saribu. Pada waktu Guillaume memberitakan tentang keberadaan Tuhan, rakyat Kerajaan Purba tercengang mendengar ada Tuhan lain selain Raja Purba. Demikianlah sekilas gambaran proses masuknya para pendatang ke tanah Simalungun yang perlu diketahui para generasi muda zaman sekarang dan juga generasi mendatang, semoga bisa jadi bahan perhatian dan lebih mengenal keberadaan dirinya. Horas janah diatei tupa