Custom Search

Pada Awalnya Marga Purba Simalungun Tidak Mengenal Cabang

Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd

22 Juni 2016

Sumber: Kompasiana

Masrul Purba

Penulis Sejarah lahirnya marga Purba Simalungun: Masrul Purba Dasuha

Pendahuluan

Dalam khasanah kebudayaan Simalungun, terminologi “Purba” memiliki beragam makna di antaranya bermakna timur, salah satu bagian delapan arah mata angin (deisa na waluh). Kata ini serumpun dengan kata “purwa” dalam bahasa Jawa yang berakar dari bahasa Sanskerta “purva”. Selain itu Purba juga bermakna pertanda, takdir, gelagat, atau ramalan (tondung), dalam tradisi Simalungun pada saat seorang wanita mengandung maupun menjelang masa persalinan (maranggi), orangtuanya akan bermimpi tentang pertanda atau takdir (purbani) kehidupan bagi anak mereka kelak. Takdir kehidupan sang anak yang masih dalam kandungan (parnaibataan) ditentukan oleh mimpi orangtuanya. Bila orangtuanya bermimpi meraih bulan, maka anak mereka kelak akan menjadi pembawa terang, namun sebaliknya bila orangtuanya bermimpi mendaki gunung tapi tidak sampai ke puncak, maka pertanda kehidupan anak mereka kelak akan menderita.

Purba merupakan salah satu marga dari empat marga besar di Simalungun, ada sejumlah pendapat mengenai tanah asal marga Purba, dalam cerita rakyat Simalungun dikenal tokoh bernama Narasi yang diyakini sebagai leluhur awal marga Purba yang bermigrasi ke tanah Simalungun bersama dengan Narasag dan Naraga leluhur Saragih dan Sinaga atas anjuran dari empat orang putera Darayad Damanik leluhur awal marga Damanik. Peristiwa ini berlangsung sekitar abad 3 masehi, sewaktu maraknya pergolakan politik di India. Mereka datang dari bagian timur laut India sekitar daerah Chota Nagpur, pegunungan Assam, dan Nagaland; mereka berlayar melalui Selat Malaka hingga sampai ke Sumatera Timur. Adapun lokasi yang menjadi tempat berlabuh dan pintu masuk mereka ke Sumatera Timur adalah melalui Pagurawan di Batubara. Mereka lalu membentuk sebuah kediaman di sekitar aliran sungai Bah Hapal, dari sinilah keturunan mereka perlahan masuk ke pedalaman. Selain itu, ada juga yang berpendapat leluhur marga Purba berasal dari Siam dan hipotesa lain justru mengarahkan asal kedatangannya dari Manchuria. Batrlett (1952:633) menjelaskan sebagaimana dikutip dari Arlin Dietrich (2003:13) bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berdiam di pesisir pantai timur, akibat desakan dari etnis Melayu yang datang dari Semenanjung Malaya sehingga mendesak orang Simalungun menyingkir ke pedalaman hingga mencapai pantai Danau Toba. Sampai sekarang penduduk Melayu di Serdang dan Deli masih banyak yang mengaku kalau nenek moyang mereka ada yang berasal dari suku Simalungun.

Dalam cerita rakyat Simalungun, dikenal dua orang tokoh marga Purba yang termasyhur dalam sejarah yaitu Sangsi Purba dan Purba Aji (Purba Parajiaji), keduanya menjadi tokoh petualang yang melegenda dalam banyak suku bahkan di kalangan suku Melayu dan Minangkabau, nama Sangsi Purba tercatat dalam tambo alam Melayu dan Minangkabau.

Riwayat hidup mereka tidak banyak terekam dalam sejarah, namun keberadaan mereka tetap menjadi ingatan bagi para keturunanannya. Pada zaman dahulu diketahui ada tiga orang puteri Purba Simalungun yang menikah dengan orang Toba, hal ini diketahui dari cerita rakyat yang berkembang di kalangan orang Toba sendiri. Dalam buku “Pustaha Batak: Tarombo Dohot Turiturianni Bangso Batak” karangan W.M Hutagalung dikisahkan bahwa Malauraja generasi ketiga dari tokoh legendaris Si Raja Batak pergi berkelana ke tanah Simalungun dan sampai ke daerah kediaman marga Purba. Di tempat ini, dia menaruh hati dengan salah seorang puteri dari marga Purba Siboro dan menikahinya, dari puteri Purba Siboro ini lahir tiga orang putera bernama Gurning, Ambaritaraja, dan Lamberaja. Demikian juga Datu Pejel alias Tuan Sorba Dijae generasi keempat dari Si Raja Batak yang merupakan saudara dari Tuan Sorba Dibanua dan Tuan Sorba Dijulu. Datu Pejel menikah dengan puteri Purba Simalungun sewaktu dia pindah dari Pangururan ke Sibisa daerah Uluan, puteranya kemudian dimargakan menurut marga ibunya. Selain keduanya, putera Raja Silahisabungan yaitu Sondi Raja leluhur marga Rumasondi generasi keenam dari Si Raja Batak juga menikahi puteri dari marga Purba Siboro yang menetap di Sagala.

 

Perkembangan Marga Purba

Pada awalnya marga Purba tidak mengenal cabang marga seperti yang berlaku saat ini, kemunculan cabang marga Purba kemungkinan mulai terbentuk setelah memasuki abad 11 M. Adapun cabang marga Purba Simalungun yaitu Tua, Tambak, Sigumondrong, Silangit, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Girsang, Pakpak, Siboro, Tambun Saribu, Tondang, Tanjung, Sihala, dan Manorsa. Cabang marga Purba yang pertama kali terbentuk adalah Siboro, Tua, dan Tambak. Dari Purba Siboro muncul marga Girsang, Pakpak, Silangit, dan Sihala, kemudian dari Purba Tua lahir Tanjung, Tondang, dan Tambun Saribu. Sementara Purba Tambak menurunkan Sigumondrong, Sidasuha, Sidadolog, dan Sidagambir.

Menurut kajian Drs. Herman Purba Tambak, MA, pada zaman dahulu salah seorang keturunan marga Purba pernah menetap di Kerajaan Banua, Aceh Tamiang. Karena kepiawaiannya, dia diangkat menjadi menantu oleh Raja Banua dan menjadi panglima kerajaan. Namun akibat adanya gempuran Majapahit pada tahun 1377 mengakibatkan kerajaan ini hancur lebur dan rakyatnya tercerai berai. Lima orang putera panglima ini kemudian pergi menyelamatkan diri, dua orang diantaranya pergi ke tanah Gayo, kemudian tiga orang lagi pergi menyusuri aliran sungai Bah Ompu (Sei Wampu) menuju ke arah Danau Toba. Karena perbedaan pandangan, dua orang meneruskan perjalanan ke Pulau Samosir, sedang seorang lagi menuju tanah Simalungun. Dalam buku Sari Sejarah Serdang edisi I karya Tengku Luckman Sinar yang dikutip dari buku “Papers on Malay Subjects” karya Wilkinson. Dijelaskan pada tahun 1377 Kerajaan Majapahit menyerang pulau Sumatera sehingga mengakibatkan terjadinya gelombang eksodus masyarakat Minangkabau ke daerah pesisir Sumatera Timur, kemudian diikuti gelombang kedua yang berlangsung pada tahun 1611, pada masa ini perpindahan mereka sampai ke semenanjung Malaya.

Putera Panglima Kerajaan Banua ini kemudian mempersunting puteri Raja Nagur marga Damanik dan melahirkan lima orang anak, masing-masing bernama Raja Perah Tua, Raja Julu, Raja Sihala Tanjung, Paranjung Sigumondrong, dan Raja Gori Silangit. Putera keduanya, Raja Julu menikah dengan puteri Karo bermarga Sembiring dari Sukanalu, dia kemudian membangun sebuah perkampungan di tempat yang terdapat banyak rawa-rawa dan menamakannya Tambak Bawang, masyarakat pun berdatangan meramaikan tempat itu, dia lalu diangkat sebagai kepala kampung (pangulu) Tambak Bawang. Dari puteri Karo ini, Raja Julu memperoleh lima orang anak, putera sulung bergelar Oppung Nengel yang memiliki gangguan pendengaran, lalu seorang putera yang dikeramatkan, Tuan Jigou (Nai Horsik), Siboru Hasaktian (pemilik pemandian keramat yang ada di Tambak Bawang), dan putera bungsu pergi ke Sukanalu ke kampung pamannya marga Sembiring, keturunannyalah Tarigan Tambak yang ada di Sukanalu.

Oppung Nengel merupakan leluhur Tarigan Tambak yang ada di Tambak Bawang dan juga Bawang, sepeninggal ayahnya dia meneruskan jabatan sebagai kepala kampung Tambak Bawang. Sedang adiknya Tuan Jigou memiliki keahlian berburu dan juga pemancing yang handal sehingga dia digelari dengan Pangultopultop, hal inilah yang menginspirasi lahirnya simbol Purba Tambak yaitu ultop (sumpit) dan bubu (alat penangkap ikan). Pada suatu hari dia melihat seekor burung, dia lalu menyumpitnya tapi burung itu terbang menjauh. Karena penasaran dia terus mengejar burung itu, akhirnya dia sampai ke Jandi Mauli dekat Silou Buntu ibukota Kerajaan Silou yang pada masa itu diperintah oleh marga Damanik dari keturunan Raja Nagur. Dia kemudian menikah dengan puteri Raja Nagur dan melahirkan seorang putera bernama Tuan Sindar Lela. Puteranya inilah yang bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Petani dekat pohon tualang di sekitar Deli Tua, sehingga dia digelari dengan Purba Tambak Tualang. Selain dengan puteri Raja Nagur, Tuan Jigou juga mempersunting puteri dari Banua sebagai isteri.

sejarah lahir m purba gbr utama

Raja Dolog Silou Tuan Tanjarmahei

Gambar 1: Raja Dolog Silou, Tuan Tanjarmahei Purba Tambak

 

Sedang menurut penuturan Alm. Tuan Bandar Alam Purba Tambak (Raja Dolog Silou terakhir) leluhurnya datang dari Pagaruyung yang berkelana melalui Natal hingga sampai ke Aceh Singkil, dari sini dia meneruskan perjalanan menuju ke arah matahari terbit, mengikuti aliran sungai Renun membawanya sampai ke tanah Timur (Hataran) daerah Simalungun. Dalam naskah kuno Partingkian Bandar Hanopan peninggalan Kerajaan Dolog Silou yang disimpan oleh Tuan Bandar Hanopan, dikisahkan bahwa Puteri Hijau mendesak Sultan Aceh agar segera memberikan legitimasi kepada saudaranya yaitu Sindar Lela untuk menjadi raja di Kerajaan Silou yang berpusat di Silou Buntu Kecamatan Raya. Dia menikah dengan puteri Raja Nagur bernama Ruttingan Omas dan melahirkan 2 orang putera, yang sulung bernama Tuan Tariti dan yang bungsu bernama Tuan Timbangan Raja. Anak yang sulung menggantikan ayahnya sebagai Raja Silou, sementara yang bungsu pindah ke Silou Dunia. Tuan Sindar Lela juga mengambil puteri dari Banua, namun puteri Raja Nagur yang disahkan sebagai permaisuri. Tuan Timbangan Raja inilah yang menikah dengan puteri Bunga Ncolei puteri Sibayak Pintu Banua dari Barus Jahe dan melahirkan dua orang putera dan seorang puteri. Salah seorang puteranya kemudian mendirikan kerajaan dekat jurang di tanah Raja Marubun di tepi Bah Karei berbatas dengan Rih Sigom dan Sibaganding, keturunannya kemudian bergelar Purba Tambak Lombang. Tuan Timbangan Raja juga menikah dengan puteri puteri Raja Nagur dari Parti Malayu marga Damanik, darinya lahir dua orang putera, pertama bernama Tuan Bedar Maralam dan kedua bergelar Tuan Anggianggi yang pergi berburu burung ke kampung Panribuan. Raja Silou pernah 2 kali berperang dengan Aceh, perang yang terakhir karena masalah patung Gajah Putih. Patung ini masih bisa kita saksikan bukti keberadaannya di Silou Buttu Kec. Raya. Pada masa perang dengan Aceh yang kedua, salah seorang putera Tuan Timbangan Raja dibawa ke Aceh Singkil dan diangkat sebagai menantu yang kemudian mendirikan kerajaan di Tarumun, Aceh Singkil. Pada masa berikutnya, Tuan Rajomin Purba Tambak bergelar Nai Horsik putera Tuan Bedar Maralam juga menikah dengan puteri Sibayak Barus Jahe, upacara pernikahan mereka diadakan di kampung Barubei, pada waktu itu hadir Pangulu Tanjung Muda, Tambak Bawang, Purba Tua, Partibi Raja, Huta Saing, dan Purba Sinumbah. Selain dengan puteri Sibayak Barus Jahe, Tuan Rajomin juga mengambil puteri Raja Pohan dari Banua bernama Ruminta sebagai isteri.

sejarah lahir m purba gbr2

Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak bersama para penasehatnya

Gambar 2: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak bersama para penasehatnya

Setelah ini posisi berganti, pihak Barus yang banyak mengambil puteri Purba Tambak, 2 orang puteri Tuan Lurni bernama Panak Boru Tobin dan seorang disebut Bou dijadikan isteri oleh Milasi Barus, Pangulu Tanjung Muda. Dari Panak Boru Tobin lahir 3 orang anak laki-laki bernama Sakka Barus, Tombaga Barus, Kudakaro Barus, dan seorang wanita bernama Tapiorei beru Barus yang kemudian kawin dengan Tuan Duria Tarigan Silangit, Pangulu Gunung Mariah, putera mereka bernama Tuan Samperaja Tarigan Silangit. Saudari dari Panak Boru Tobin inilah Tuan Tanjarmahei yang fotonya di sebelah kanan atas. Saudarinya yang lain adalah Tuan Dormagaja, memiliki 6 orang anak, yaitu 1. Tapiara kawin dengan Laut Sipayung, anak mereka bernama Garain, 2. Tamin kawin dengan Tombaga Barus, anak mereka bernama Martika Barus. 3. Hamura kawin dengan Andim Sipayung, anak mereka bernama Morgailam Sipayung, 4. Loin kawin dengan Jimat Sipayung, anak mereka bernama Kawan Sipayung, 5. Rabini kawin dengan Ramauli Barus, dan 6. Arbun kawin dengan Taris Barus. Selanjutnya puteri Tuan Dorahim bernama Panak Boru Bungalou kawin dengan Sakka Barus, diperoleh anak laki-laki bernama Jotar Barus, dan 3 anak perempuan bernama Dingin, Renep, dan Langges. Tuan Tanjarmahei memiliki 30 orang anak dari 2 orang isteri, pertama boru Saragih Simarmata dari Purba Saribu dan kedua bernama Bungalain boru Saragih Garingging puteri Raja Raya. Salah seorang puteranya bernama Tuan Huala memiliki 5 orang isteri, dari isteri keempat bernama Ragi boru Saragih melahirkan 3 orang puteri bernama Rainggan kawin dengan Tandang Sipayung, Tarmulia kawin dengan Bolong Barus, dan Parpulungan kawin dengan Banci Sinulingga. Dari isteri kelima bernama Ikim boru Saragih lahir seorang puteri bernama Ramaidah yang kawin dengan Tolap Barus. Puteri Tuan Tanjarmahei bernama Panak Boru Linggainim kawin dengan Bintala Barus dan memperoleh 3 orang anak laki-laki bernama Rajanimbang kawin dengan Tiomina boru Tarigan Tua, Nokoh kawin dengan Tamin boru Purba, dan Ingatbona kawin dengan Maria boru Bangun. Dari hasil pernikahan Rajanimbang dengan Tiomina boru Tarigan Tua lahir Dr. Ir. Takal Barus yang makamnya terdapat di Tiga Dolog.

sejarah lahir marga purba gbr3

Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak

Gambar 3: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak

Daftar Raja Dolog Silou:

  1. Tuan Bedar Maralam
  2. Tuan Rajomin
  3. Tuan Moraijou
  4. Tuan Taring
  5. Tuan Lurni
  6. Tuan Tanjarmahei
  7. Tuan Ragaim
  8. Tuan Bandar Alam

Selain di tanah Simalungun dan Karo, marga Tambak juga ditemukan di daerah Padang Lawas dan Kota Pinang. menurut Nalom Siahaan B.A dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Batak menerangkan bahwa marga Tambak merupakan penduduk asli di Padang Lawas, akibat kehadiran marga Harahap mereka terdesak dan pindah ke Kota Pinang. Bila berkunjung ke Padang Lawas dan Mandailing, kita akan menemukan sejumlah perkampungan yang mengabadikan marga Purba seperti Bangun Purba, Purba Bangun, Tanjung Purba, Purba Sinomba, Purba Tua, Purba Lama, dan Purba Baru, apakah perkampungan ini ada kaitannya dengan keberadaan Purba Tambak di tempat ini, barangkali perlu penelitian lebih lanjut. Marga Tambak inilah yang ditemui oleh Batara Sinomba dan puteri Lenggani dari Pagaruyung. Dari kedua orang inilah cikal bakal lahirnya Kesultanan Kota Pinang, Bilah, Panai, Kualuh, dan Asahan. Pada tahun 2005 penulis pernah bertemu dengan salah seorang penyandang marga Tambak ini di Padang Lawas sewaktu berkunjung ke kampung halaman ipar penulis di Dusun Sipaho Desa Janji Matogu Kec. Halongonan, Kabupaten Padang Lawas Utara. Keberadaan marga Tambak di Padang Lawas, mengingatkan penulis pada Kerajaan Panai yang pernah berdiri di lembah sungai Panai dan Barumun yang hancur oleh serangan Kerajaan Chola pada tahun 1025 Masehi.

Kerajaan Panai merupakan kerajaan besar sebagai bukti kejayaan masa silam penduduk suku Batak di Sumatera Utara. Marga Tambak besar dugaan berawal dari kerajaan ini, akibat serangan Kerajaan Chola rakyatnya jadi tercerai berai, sebagian rakyatnya ada yang pergi mengungsi ke Pagaruyung, Toba, Labuhan Batu, dan juga Asahan. Di Asahan salah seorang keturunannya membangun kembali kerajaan baru dengan mengusung nama Panai yang menjadi cikal bakal Kerajaan Panei di Simalungun.

sejarah lahir m purba gbr4

Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak (kanan) bersama dengan Raja Siantar, Tuan Sawadim Damanik (kiri)

Gambar 4: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak (kanan)

bersama dengan Raja Siantar, Tuan Sawadim Damanik (kiri)

Purba Sidasuha merupakan saudara dari Purba Tambak, marga ini berasal dari Suha Na Bolag sebuah kampung dekat Tiga Runggu yang didirikan oleh Raja Silou. Pada zaman dahulu Raja Silou yang tinggal di Silou Buntu memiliki dua orang putera dan seorang puteri, anak bungsunya sangat rajin bekerja ke ladang dan juga menyadap enau, berbeda dengan saudaranya yang sulung lebih gemar berkelana, berjudi, dan berniaga. Sedang saudara perempuan mereka pergi mengikuti suaminya di Dolog Hasian masuk Kecamatan Raya sekarang (sebagian mengatakan di Malasori dekat Dolog Masihol). Pada suatu hari, putera bungsu Raja Silou ini sangat kecewa dengan abangnya karena menyantap habis makanan dan juga tuak yang disadapnya. Dia lalu menegur abangnya atas perbuatan yang dia lakukan, namun abangnya tidak mempedulikannya justru menghinanya dengan ucapan: “suhasuhani bagod in do na suman inumonmu, tandani ho silojaloja irumah bolon on!” (Artinya: memang sisa tuak itu yang layak untukmu selaku suruhan di istana ini).

Karena merasa terhina, dia lalu memukul abangnya, akibatnya terjadilah perkelahian di antara mereka. Namun karena abangnya lebih kuat, dia lalu memutuskan pergi dari Silou Buntu menuju ke tempat saudara perempuannya di Dolog Hasian (Malasori?). Sesampainya di Dolog Hasian dia menceritakan semua kejadian yang dia alami kepada saudara perempuannya dan mengatakan bahwa dia sedang diburu oleh abangnya untuk dibunuh, demi menyelamatkan nyawa saudara laki-lakinya dia lalu menyuruhnya agar bersembunyi di bawah “palakka pangulgasan” (tempat merendam benang tenunan), saudara perempuannya ini lalu duduk di atasnya sambil bertenun. Akhirnya rombongan abangnya tiba di Dolog Hasian dan menanyakan perihal adiknya, saudara perempuannya ini menunjukkan arah yang berbeda, sehingga selamatlah saudara laki-lakinya itu dari pengejaran abangnya. Atas jasa saudara perempuannya ini, dia bersumpah akan selalu mengingatnya hingga keturunannya mendatang dan akan menyayangi mereka demikian juga anak perempuan mereka (panogolan).

Dalam laporan J. Tideman yang dimuat dalam bukunya “Simeloengoen: het land der Timoer-Bataks in zijn vroegere isolatie en zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied van de Oostkust van Sumatra”, dia mengisahkan bahwa pada zaman dahulu Tuhan Suha Na Bolag memiliki dua orang anak, yang sulung bekerja sebagai petani, sedang yang bungsu setiap pagi pergi menyadap enau untuk dijadikan tuak. Sepulang menyadap enau, dia kemudian pergi berburu.

Akibat sering pulang terlambat, abangnya selalu menyantap habis makanan dan juga tuak dan hanya meninggalkan sisa-sisa (tebateba) untuk adiknya. Hal ini menimbulkan kemarahan adiknya, dia lalu memukul abangnya lalu pergi meninggalkan rumah dan bersembunyi di hutan. Akibat perlakuan tidak adil dari abangnya, dia lalu memutuskan meninggalkan Suha Na Bolag selamanya, namun sebelum dia pergi, dia teringat dengan kitab sihir Parpaneian yang dimiliki ayahnya yang terbuat dari kulit kayu alim warisan keluarga turun temurun. Dengan mempelajari kitab tersebut, manusia mampu mengetahui kapan saat yang baik dan buruk dalam melakukan sebuah tindakan. Dia lalu mengambil kitab tersebut dan membawanya menuju ke arah timur hingga tiba di kampung Dusun Raja Nagur, kampung ini sekarang terletak di sekitar Pamatang Panei. Di tempat ini, dia menikah dengan putri kepala kampung bermarga Damanik. Untuk menutupi jejaknya, dia kemudian mengganti marganya menjadi Purba Suha atau Sidasuha (sebagian berpendapat namanya adalah Tanjarum Purba Sidasuha). Dia semakin dikenal secara luas oleh masyarakat setelah kematian ayah tirinya yang menjabat sebagai kepala kampung.

sejarah lahirnya m purba gbr5

Tuan Anggi Dolog Silou, Tuan Rajabulan Purba Tambak bersama dengan keluarganya

Gambar 5: Tuan Anggi Dolog Silou, Tuan Rajabulan Purba Tambak bersama dengan keluarganya

Dia mencoba memperluas wilayah dengan menaklukkan Dusun Sapala Tuhan, kemudian berkembang desas-desus di tengah masyarakat bahwa dia memiliki kekuatan gaib yang bersumber dari kitab Pustaha Panei Bolon, orang menduga dia berhasil melakukan segala hal berkat bantuan kitab tersebut. Untuk memperkuat kedudukannya, dia kemudian pergi ke Kerajaan Siantar untuk mempersunting puteri raja Siantar marga Damanik. Berkat bantuan mertuanya Raja Siantar, Sidasuha diangkat menjadi raja di daerah bekas kekuasaan Raja Onggou Saragih Sipoldas. Kisahnya berawal saat diadakan pertemuan dengan para Raja Marompat di Dolog Saribu yang dihadiri Raja Tanoh Jawa, Silou, dan Sipoldas. Di hadapan mereka, Raja Siantar mengatakan bahwa menantunya memiliki sebuah kitab sakti bernama Pustaha Panei Na Bolon, kitab tersebut dapat dibuka dalam ruangan gelap karena tulisan yang tersurat dalam kitab itu memancarkan sinar seperti seekor naga (panei) yang mampu bersuara dan meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi.

Mendengar kisah yang disampaikan Raja Siantar itu, Raja Onggou Saragih sama sekali tidak percaya, dengan ucapan takabur dia mengatakan: “Anggo tongon do adong ai, age huborei harajaonhu on bani”. Untuk membuktikan ucapannya, Raja Siantar lalu menyuruh Sidasuha agar masuk ke dalam balai untuk memperlihatkan kitab tersebut. Agar kitab tersebut dapat dibuka, Sidasuha menyuruh agar semua pintu dan jendela ditutup, dia lalu membukanya dengan perlahan. Semua yang hadir sangat terkejut ketika seekor naga keluar sambil memancarkan cahaya yang gemerlapan sembari berkata: “Ahu do na manatang tanoh on, anggo ulungku sanggah dompak hapoltakan margoling do ahu. Mardugur ma tanoh on, ai ma na ihatahon manisia lalou. Sahali waluh taun margoling do ahu, mardugur ma homa lalou”. Di tengah naga itu mengeluarkan suara, Raja Onggou berseru sembari membenarkan ucapan naga itu, dia mengatakan sejak delapan tahun terakhir telah terjadi gempa sebanyak dua kali. Melihat kesaktian dan kebenaran dari kitab Pustaha Panei Na Bolon tersebut Raja Onggou, akhirnya menyesali kesombongannya dan dengan sikap penuh tanggungjawab dia pun memenuhi janjinya menyerahkan kekuasaannya kepada Sidasuha. Pada saat itu juga mereka bersepakat merajakan Sidasuha dan memintanya duduk di atas singgasana Raja Onggou, namun Sidasuha menolaknya. Dia memilih dinobatkan di atas Pustaha Panei Na Bolon karena itulah kerajaannya dinamakan Panei. Terdengarlah berita ke segala penjuru bahwa Kerajaan Sipoldas sudah beralih menjadi Kerajaan Panei.

Jabatan Raja Onggou turun menjadi Parbapaan yang tunduk dibawah Kerajaan Panei, keturunannya kemudian menjadi pihak menantu (anak boru) dari Raja Panei. Raja Onggou memberikan kuasa kepada Sidasuha agar memilih tempat sebagai pusat pemerintahannya, ada empat lokasi yang ditunjukkan oleh Raja Onggou yaitu Pamatang Panei, Nagori Bosar, Silahuan, dan Baris Tongah. Sidasuha kemudian memilih Pamatang Panei karena menurutnya sangat strategis untuk jadi pusat pemerintahan. Para penguasa Panei ketika dikukuhkan sebagai raja wajib duduk di atas Pustaha Panei Bolon sebagai syarat untuk sah menjadi Raja Panei.

Pada zaman Belanda, di lingkungan istana Kerajaan Panei dikukuhkan tiga jabatan yang berfungsi sebagai Dewan Kerajaan, yaitu:

  1. Orang Kaya dari marga Purba Girsang dan diwakili oleh Tuan Dolog Batu Nanggar, salah seorang Parbapaan yang dulu menjadi vazal Panei.
  2. Jagoraha atau panglima pasukan, jabatan ini dipegang oleh seorang dari marga Purba Tambun Saribu yang diwakili oleh Tuan Simarimbun Parbapaan Panei.
  3. Tuan Suhi dari marga Purba Sidadolog yang diwakili oleh Tuan Sinaman Parbapaan Panei.

 

Raja pertama Panei menurunkan seorang putra yang pincang bernama Marsitajuri, salah satu kakinya lebih panjang dari yang lain. Dalam kondisi pincang, Marsitajuri mampu menunggang kuda dan menjadi panglima dalam setiap peperangan, sejak itu dia dikenal dengan julukan Parhuda Sitajur. Dia menaklukkan berbagai kampung termasuk Dusun Siantar, Urung Sidadolog, dan Dusun Sapala Tuhan (sekarang Panei Hulu), dan membangun sejumlah kampung baru di sekitarnya. Pada masa pemerintahannya, perluasan wilayah Kerajaan Panei terus dilakukan, pihak lawan sangat takut padanya. Berkat kesaktian kudanya yang dapat menghilang di tengah peperangan, pihak lawan kerap menggelarinya dengan “Hantu Panei” yaitu roh yang jahat.

Sampai sekarang orang masih mengingat sumpah bahwa Hantu Panei adalah hantu yang paling jahat. Pada generasi berikutnya, salah seorang keturunan Purba Sidasuha yang berdiam di sebuah pegunungan membentuk cabang baru dengan sebutan Purba Sidadolog, daerah awal penyebaran marga ini bermula dari Sinaman, keturunannya kemudian menyebar dan mendirikan sejumlah perkampungan seperti Bangun Panei, Urung Panei, dan Urung Sidadolog. Akibat terjadi perselisihan di antara keturunannya, muncul pecahan baru yaitu Purba Sidagambir. Dia sehari-hari bekerja sebagai petani gambir, mendirikan kampung Rajaihuta, kemudian keturunannya mendirikan kampung baru bernama Dolog Huluan.

Daftar Raja Panei:

  1. Tuan Suha Bolag
  2. Tuan Tanjarum
  3. Marsitajuri (Parhuda Sitajur)
  4. Raja Panei III
  5. Raja Panei IV
  6. Raja Panei V
  7. Raja Panei VI
  8. Raja Panei VII
  9. Raja Panei VIII
  10. Tuan Sarmalam
  11. Tuan Sarhalapa
  12. Tuan Jintama
  13. Tuan Jontama
  14. Tuan Jadiammat
  15. Tuan Bosar Sumalam
  16. Tuan Marga Bulan (Raja Muda)

Keturunan Purba Tambak yang lahir dari puteri Saragih Simarmata pindah ke Cingkes dan menamakan diri Purba Sigumondrong. Dari Cingkes inilah keturunannya pergi merantau ke berbagai tempat. Saat ini keturunan Purba Sigumonrong menyebar luas di sejumlah daerah di Kabupaten Simalungun dan tanah Karo (Tarigan Gerneng) mulai dari Cingkes, Bawang, Saribu Dolog, Lokkung, Raya Panribuan, Sondi Raya, Mappu, Sinondang, Merek Raya, Raya Tongah, Bah Hapal, dan Nagori Dolog. Dari sini keturunannya menyebar lagi ke kawasan di sekitarnya seperti Sambosar Raya, Marubun Lokkung, dan Togur. Adapun Purba Sigumondrong yang berdiam di Marubun Lokkung dan Togur sekitarnya merupakan para perantau dari kampung Lokkung di Raya yang sengaja datang ke tempat itu untuk membuka perladangan. Sejarah kehadiran Purba Sigumondrong ke Raya diawali dari perjalanan Tuan Pining Sori Munthe yang mengadakan ekspedisi perjalanan dengan menunggang seekor kerbau Si Nanggalutu dari Ajinembah.

Dalam perjalanannya, dia sempat singgah di daerah Garingging lalu meneruskan perjalanan melewati Cingkes, dari sinilah salah seorang keturunan Purba Sigumondrong ikut serta bersama rombongan Tuan Pining Sori menuju Raya Simbolon.

Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur Purba Silangit berasal dari Batu Silangit, dari tempat ini keturunannya kemudian menyebar ke Tinggi Raja, Raya, Toras, dan Langit Sinombah. Dari Toras keturunannya kemudian pindah lagi ke Panribuan, lalu dari Langit Sinombah menyebar ke Saran Padang. Kemudian dari Panribuan keturunannya membentuk perkampungan baru di luar Dolog Silou yaitu Gunung Panribuan dan Gunung Mariah yang kini masuk wilayah Deli Serdang.

Dari Panribuan, Gunung Panribuan dan Gunung Mariah ini keturunannya banyak yang hijrah ke tanah Karo dan menggabungkan diri dengan marga Tarigan. Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa Purba Sigulang Batu konon lahir dari salah seorang keturunan Purba Silangit yang pergi berkelana ke Humbang. Pada zaman dahulu di sekitar Dolog Tinggi Raja pernah dikuasai oleh Purba Silangit, konon terbentuknya cagar alam Dolog Tinggi Raja diyakini akibat dari tragedi bencana banjir yang menimpa wilayah kekuasaan Raja Purba Silangit, masyarakat setempat masyarakat setempat meyakini usai tragedi inilah menjadi awal mula munculnya massa air panas dan kawah putih di wilayah ini.

Hingga saat ini masih ditemukan keturunan Purba Silangit mendiami kawasan ini. Adapun leluhur Purba Tondang berawal dari kampung Hitei Tanoh (Huta Tanoh sekarang) di Kecamatan Purba, marga ini memiliki hubungan erat dengan Purba Tambun Saribu. Mereka memperluas wilayah hingga sampai Hinalang dan Purba Hinalang, merekalah penduduk pribumi di Hinalang yang menyambut kehadiran Purba Pakpak yang datang dari Pamatang Purba. Dari tempat ini sebagian dari mereka merantau ke tanah Karo dan beralih menjadi Tarigan Tondang dan Tarigan Tendang. Saudaranya, Purba Tambun Saribu perkembangannya berawal dari Harangan Silombu kemudian menyebar ke Binangara di Kecamatan Purba, keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tambun.

Pada zaman dahulu salah seorang keturunan Purba Tambun Saribu yang mendiami daerah Simarimbun didudukkan sebagai pembesar Kerajaan Panei dengan pangkat Raja Goraha yang bertugas sebagai panglima perang tertinggi yang membawahi sejumlah panglima dan daerah Simarimbun sendiri dipilih sebagai salah satu Parbapaan Panei. Salah seorang keturunan Tuan Simarimbun ada yang terkenal memiliki senjata pamungkas bernama “Timah Siborongborong” dan ilmu ghaib yang dinamakan “Hurjabni Huda Sianjur”. Cabang marga Purba lainnya yaitu Purba Tua, eksistensi marga ini ditandai dengan adanya kampung Purba Tua yang berada di Kecamatan Silimakuta. Dari Purba Tua, keturunannya menyebar ke Rahut Bosi, Cingkes, Tambak Bawang, sebagian pindah ke tanah Karo dan bermukim di daerah Juhar menyandang marga Tarigan Tua.

Marga inilah yang menerima kehadiran salah seorang keturunan marga Cibero di Juhar yang datang dari Tungtung Batu yang kemudian beralih menjadi Tarigan Sibero, peristiwa ini terjadi sekitar 500 tahun yang lalu. Dari marga ini muncul Purba Tanjung di mana keturunannya banyak mendiami daerah Sipinggan, simpang Haranggaol. Namun, ada juga yang menduga leluhur mereka bermula dari Purba Tambak, di mana salah seorang keturunannya mendirikan kampung di sebuah tanjung di pinggiran Danau Toba, sehingga dinamakan Purba Tanjung. Selain itu, ada sebuah kisah tentang seorang pemuda bermarga Tanjung berasal dari Minangkabau, yang datang ke daerah Sokkur, Raya Kaheian bersama orang Cina sebagai pekerja bangunan. Dia lalu menikah dengan seorang puteri Damanik Malayu dan disahkan menjadi Purba Tanjung. Keduanya dikaruniai lima orang anak yang bermargakan Purba Tanjung.

Setelah beberapa lama berada di Sokkur, timbul kerinduannya pada kampung halamannya. Dengan berjalan kaki dia pulang kembali ke Minangkabau meninggalkan isteri dan anaknya, hingga akhir hayatnya dia tidak pernah kembali ke Sokkur. Tulang belulang isterinya disemayamkan pada peti batu dan hingga kini masih tetap diperhatikan oleh keturunannya. Bila merujuk versi Toba, Purba Tanjung dinyatakan berasal dari garis keturunan Marsahan Omas (Bercawan Emas) keturunan Purba Parhorbo.

Purba Parhorbo memiliki tiga orang anak, masing-masing bernama Parhodahoda, Marsahan Omas, dan Tuan Manorsa. Konon Marsahaan Omas sering melakukan ritual “maranggir” (mandi menggunakan jeruk purut) dengan menggunakan cawan emas di sekitar kampung Nagori Kecamatan Purba. Dia memiliki tiga orang putera, yaitu Tuan Siborna, Nahoda Raja, dan Namora Soaloon. Dari Nahoda Raja lahir Raja Omo yang merupakan leluhur Purba Tanjung pertama yang bermukim di Sipinggan.

Sementara untuk marga Girsang, ada 4 pendapat yang berkembang tentang asal marga ini, pertama sebagian penyandang marga ini meyakini leluhur mereka berasal dari Lehu keturunan marga Cibero, kedua sebagian menyatakan keturunan Purba Sigulang Batu, ketiga ada yang mengaku berasal dari Sitampurung dekat Siborongborong keturunan marga Sihombing Lumban Toruan, dan terakhir ada yang menduga asalnya dari kampung Girsang dekat Parapat Simalungun. Komunitas Girsang yang tinggal di daerah Silimakuta umumnya meyakini asal leluhur mereka datang dari Lehu. Posisi Girsang di Lehu adalah sebagai menantu dari marga Manik, sejarahnya diawali ketika si Girsang mengembara hingga akhirnya sampai ke Lehu, dia kemudian diangkat menjadi menantu oleh Raja Mandida Manik salah seorang penguasa di Suak Pegagan tanah Pakpak.

Dari hasil investigasi penulis beberapa tahun yang lalu, di mana penulis menginterview salah seorang pengetua adat Pakpak marga Cibero. Ia menjelaskan bahwa Girsang adalah keturunan dari marga Cibero. Leluhur marga ini tinggal di sebuah bukit di kampung Lehu, pemukimannya itu diberikan oleh Raja Mandida Manik karena menikahi puterinya. Adapun nama leluhur pertama marga Girsang yg datang langsung dari Pakpak menurutnya ada dua orang, yaitu si Girsang dan Sondar Girsang, mereka ini keturunan kesepuluh dari Raja Ghaib leluhur pertama marga Cibero. Pada suatu hari keduanya mengejar seekor rusa ke timur yang ditembaknya di Lehu, rusa tersebut lalu dikejar oleh anjingnya sampai ke Dolog Tanduk Banua (Sipisopiso). Di tempat ini mereka kehilangan jejak, si Girsang melihat seekor kerbau putih (horbou jagat), sehingga dia menduga sedang berada di suatu perkampungan. Untuk memenuhi rasa penasarannya, dia bersama anjingnya lalu mendaki Dolog Tanduk Banua, namun karena sepanjang hari mereka tidak makan dan minum, mereka lapar dan haus sehingga si Girsang duduk di bawah pohon dan meminum beberapa tetes embun yang jatuh dari daun, dia lalu bangkit berdiri. Anjingnya berjalan dengan menjulurkan lidahnya, si Girsang kemudian membantu hewan ini memetik cendawan merah dan memberikan kepadanya untuk dimakan, namun ternyata buah itu mengadung racun.

Setelah dia memberikan cendawan putih, maka hewan itu kembali kuat seperti sebelumnya. Si Girsang mulai mengetahui bahwa cendawan merah itu mengandung racun, sementara cendawan putih bisa digunakan sebagai obat penawar. Dari puncak gunung dia melihat sebuah kampung yang luas, tempat pemukiman marga Sinaga yang bernama Naga Mariah. Dia memasuki perkampungan itu dan salah seorang penduduk bersedia menerima si Girsang untuk menetap di rumahnya. Pada saat itu kampung Naga Mariah sedang terancam oleh serbuan musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, mereka bermalam di dekat Dolog Singgalang. Mereka mengambil air dari lereng Dolog Singgalang, kini disebut Paya Siantar. Melihat kondisi ini, Tuan Naga Mariah lantas merasa sangat terancam, setelah mendengar berita ini, si Girsang lalu datang menemuinya.

Dia mengajukan diri kepada Tuan Naga Mariah akan menghancurkan semua musuhnya. Tuan Naga Mariah berkata, “Jika engkau berhasil menghancurkan mereka, maka saya akan menyerahkan puteri saya untuk engkau jadikan sebagai isteri”. Kemudian si Girsang memohon kepada Tuan Naga Mariah agar memerintahkan penduduknya mengumpulkan sebanyak mungkin duri, baik duri bambu, jeruk, rotan, pandan maupun tanaman lainnya. Si Girsang lalu memetik cendawan merah, merendamnya dalam air dan menaburkan duri ke dalamnya. Duri beracun tersebut lalu ditaburkannya di sepanjang jalan yang akan dilewati oleh pihak musuh, demikian juga air beracun dimasukkannya ke dalam Paya Siantar. Setelah para musuh bergerak menuju Naga Mariah, mereka terjebak dalam duri dan keracunan karena meminum air dari Paya Siantar, akibatnya mereka semua mati terbunuh. Si Girsang kemudian pergi menemui Tuan Naga Mariah dan berkata: ”Ada seribu lawan mati bergelimpangan di gunung itu”, sehingga gunung tersebut dinamakan Dolog Singgalang dan tempat itu disebut Saribu Dolog.

Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian mengangkatnya sebagai menantu, upacara pernikahan mereka dirayakan layaknya pernikahan seorang raja. Karena si Girsang belum memiliki rumah, untuk sementara dia tinggal di Rumah Bolon (rumah besar) di sebelah kiri rumah Tuan Naga Mariah. Akibat peristiwa ini, dia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan terkenal sebagai dukun sakti dan ahli nujum yang memahami seni mencampur racun sehingga orang menyebutnya Datu Parulas.

Setelah wafatnya Tuan Naga Mariah, tampuk kekuasaan beralih kepadanya, tidak lama kemudian dia mendirikan kampung Naga Saribu di sekitar lokasi di mana para musuh dari Siantar itu mati dan menjadikannya sebagai ibukota Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rahut Bosi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Naga Mariah. Sejak terjadinya suksesi kepemimpinan ini, masyarakat setempat bermarga Sinaga, akhirnya banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan berafiliasi dengan marga Peranginangin Bangun. Dari isteri pertamanya Datu Parulas memperoleh empat orang putra, namun mereka belum bisa disebut sebagai putra raja, karena ayahnya belum menjadi raja. Mereka menjadi leluhur Tuan Rahut Bosi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, dan Mardingding.

Setelah itu dia masih dikarunia dua orang putra, yang sulung membuka kampung Jandi Malasang, kemudian pindah ke Bage, di tempat ini dia membangun pasar dan balai yang mandiri. Si Bungsu mengikuti Datu Parulas dan menjadi penggantinya. Pada masa penjajahan Belanda, Bage berada di bawah Silima Huta. Keturunannya kemudian membelah diri menjadi beberapa cabang yaitu Girsang Rumah Bolon, Nagodang, Parhara, dan Rumah Parik. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo membentuk dua kelompok yaitu Tarigan Girsang dan Tarigan Gersang. Sebagian keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang kemudian menjadi Girsang Silangit. Peristiwa yang sama juga dialami salah seorang keturunan marga Cibero yang bergelar Pangultopultop, karena memburu seekor burung dari Tungtung Batu Kecamatan Silima Punggapungga membawa dirinya sampai ke Simalungun dan memasuki wilayah kekuasaan Tuan Simalobong salah satu partuanon dari Kerajaan Panei. Karena kepiawaiannya ia berhasil merebut hati rakyat Simalobong yang tengah dilanda musim paceklik sehingga rakyat Simalobong dengan sukarela memanggilnya raja.

Hal ini menimbulkan kemarahan dan kecemburuan Tuan Simalobong, karena ia merasa ialah satu-satunya yang berhak menyandang titel tersebut. Akibatnya Pangultopultop berurusan dengan pihak istana dan berhadapan langsung dengan Tuan Simalobong, peristiwa ini berujung dengan adu sumpah (marbija) antara keduanya yang akhirnya berhasil dimenangkan oleh Pangultopultop.

Kepemimpinan kemudian jatuh ke tangannya, di bekas wilayah kekuasaan Tuan Simalobong, ia lalu mendirikan Kerajaan Purba dan mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Purba Pakpak. Mengenai Purba Pakpak, pengetua adat marga Cibero dengan tegas mengatakan bahwa Pangultopultop, sang pendiri Kerajaan Purba yang merupakan nenek moyang pertama Purba Pakpak juga bermarga Cibero. Nama asli Pangultopultop menurutnya adalah Gorga, ia memiliki seorang saudara bernama Batu, putera Batu bernama Buah atau Suksuk Langit yang juga digelari Pengelter yang pindah ke Juhar dan menjadi Tarigan Sibero.

Mereka ini merupakan generasi keduapuluh dari Raja Ghaib, generasi awal marga Cibero. Sedang leluhur Girsang yang pertama kali pindah ke Simalungun adalah generasi kesepuluh, hingga saat ini keturunan Raja Gaib sudah mencapai tigapuluh lima generasi. Di antara keturunan Purba Pakpak ada yang membelah diri menjadi Purba Sihala dan mendiami daerah Purba Hinalang, sebagian keturunannya pindah ke Dolog Silou dan menjadi Tarigan Purba Cikala, mereka mendiami daerah Cingkes dan Tanjung Purba, Kecamatan Dolog Silou.

sejarah lahirnya m purba gbr6

Raja Purba XII, Tuan Rahalim Purba Pakpak

Gambar 6: Raja Purba XII, Tuan Rahalim Purba Pakpak

Sebagian keturunan Purba Pakpak dan Purba Girsang, ada yang meyakini bahwa Pangultopultop dan Datu Parulas adalah figur yang sama dan sosok Datu Parulas juga dikenal di kalangan marga Nainggolan, namun ada versi berbeda tentang kisah kehidupannya. Menurut keyakinan Purba Pakpak, setelah Pangultopultop mendirikan Kerajaan Purba dan memiliki seorang putera sebagai penerus tahta, dia kemudian pergi menyeberang ke Pulau Samosir. Di Samosir, dia memasuki wilayah kekuasaan Tuan Mulani Huta marga Sagala. Di tempat ini, dia membantu membunuh babi hutan dan burung buas yang konon berkepala tujuh yang meresahkan masyarakat setempat. Dengan kesaktiannya, dia berhasil membasmi babi hutan dan burung buas berkepala tujuh tersebut. Atas jasanya, Tuan Mulani Huta lalu menyerahkan puterinya bernama Nai Asangpagar kepada Pangultopultop untuk dijadikan isteri, dari perkawinannya melahirkan tiga orang putera yang kemudian membawakan marga Siboro.

Pengembaraannya tidak berhenti sampai di sini, Pangultopultop kemudian pergi ke daerah Harian Nainggolan, dia menikahi salah seorang puteri Nainggolan. Di saat isterinya mengandung, dia kemudian kembali pulang ke Simalungun. Tidak lama kemudian isterinyapun melahirkan, karena Pangultopultop dianggap tidak bertanggungjawab, maka anak yang dilahirkan itu diberikan marga sesuai dengan marga ibunya yaitu Nainggolan Lumban Raja. Setelah beranjak dewasa, puteranya ini lalu bertanya tentang asal muasal ayahnya, karena rasa ingin tahunya yang sangat besar dia kemudian menerbangkan sebuah lesung dengan menggunakan ilmu bernama Sipahabang Losung, tanpa disadari lesung itu jatuh di Purba Saribu dekat Haranggaol.

Dari situlah dia mengetahui kalau ayahnya berasal dari Simalungun, lesung tersebut masih bisa disaksikan hingga hari ini di Purba Saribu. Pihak Nainggolan menyebut Pangultopultop ini dengan nama Datu Parulas. Menurut keyakinan mereka, Datu Parulas pernah juga mengembara ke daerah Pusuk Barus. Di tempat ini, dia menikah lagi dan isterinya melahirkan 4 orang putera, masing-masing bernama Guru Panuju yang menurunkan marga Nahulae, Dormahasi menurunkan marga Sibuaton, Sarmahata menurunkan marga Pusuk, dan keempat bergelar Mata Tunggal. Di masa tuanya, jejak pengembaraan Datu Parulas ditemukan di sekitar daerah Perdagangan, adapun Keramat Kubah Perdagangan oleh keturunannya diyakini sebagai tempat persemayaman terakhir Datu Parulas baik oleh pihak Nainggolan maupun Purba Girsang dan juga Purba Pakpak.

sejarah lahirnya m purba gbr7

Raja Purba XII Tuan Rahalim Purba Pakpak didampingi para penasehatnya

Gambar 7: Raja Purba XII Tuan Rahalim Purba Pakpak didampingi para penasehatnya

Daftar Raja Purba:

  1. Tuan Pangultop Ultop (1515-1560)
  2. Tuan Rajiman (1560-1590)
  3. Tuan Nanggaraja (1590-1631)
  4. Tuan Batiran (1631-1650)
  5. Tuan Bakkaraja (1650-1679)
  6. Tuan Baringin (1679-1727)
  7. Tuan Bona Batu (1727-1762)
  8. Tuan Rajaulan (1762-1795)
  9. Tuan Atian (1795-1830)
  10. Tuan Horma Bulan (1830-1867)
  11. Tuan Raondop (1867-1904)
  12. Tuan Rahalim (1904-1921)
  13. Tuan Karel Tanjung (1921-1934)
  14. Tuan Mogang (1934-1947)
sejarah lahirnya m purba gbr8

Rumah Bolon Kerajaan Purba

Gambar 8: Rumah Bolon Kerajaan Purba

sejarah lahirnya m purba gbr9

Balei Bolon Kerajaan Purba

Gambar 9: Balei Bolon Kerajaan Purba

 

Demikianlah sejarah singkat lahirnya komunitas marga Purba di Simalungun yang mampu penulis utarakan, semoga di kemudian hari penulis mendapatkan tambahan informasi untuk melengkapi dan merampungkan tulisan ini.

Penulisan sejarah ini dilatarbelakangi oleh keinginan kuat penulis untuk membuat sebuah buku sejarah Purba Simalungun untuk disebarluaskan kepada seluruh keturunan marga Purba agar dapat menjadi pedoman bagi kalangan marga Purba yang hidup di zaman sekarang hingga anak cucu mendatang.

 

Daftar Pustaka:

1.Purba Tambak, TBA. Sejarah Keturunan Silou. Pematang Siantar: 1967 2.Purba Tambak, TBA & Purba, Jintahalim. Naskah Silsilah Purba 2.Tambak. Pematang Siantar: 1967

3.Purba Tambak, Herman, Drs. Kerajaan Silou (Historiae Politia), Edisi Kedua. Pematang Siantar: 2008

4.Purba, MD, Letkol. Pustaha Panei Bolon. Pematang Siantar: 1970 5.

5.Purba, Kenan, D & Purba, J.D. Sejarah Simalungun. Jakarta: Bina Budaya Simalungun Parsadaanni Purba Pakpak Boru Pakon Panogolan: 1995                                                                                                                                                                                                                                                   Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masrul2014/sejarah-lahirnya-marga-purba-simalungun_5769fad46123bdb604136d86