Custom Search

Kerajaan Silou Penerus Kerajaan Nagur

(Bagian Pertama)

oleh: Masrul Purba Sidasuha

masrul-foto2

Masrul Purba Sidasuha

Pengantar

Kerajaan Silou merupakan salah satu kerajaan kuno di Simalungun yang berdiri pasca kemunduran Kerajaan Nagur, wilayah kekuasaannya membentang mulai dari Asahan hingga sebagian tanah Simalungun sekarang. Sebagaimana halnya Nagur, Kerajaan Silou pernah mengalami kejayaan selama beberapa abad, dalam memperluas wilayah kekuasaannya, kerajaan ini merebut sebagian daerah Kerajaan Batangiou dan juga Nagur. Ada beragam pendapat mengenai asal nama “silou”, sejumlah pemerhati budaya Batak mendefinisikan “silou” adalah sinar atau halilintar yang bersinonim dengan kata “panei” (berasal dari kata “pani” dalam bahasa Sanskerta).

Wujud sinar atau halilintar ini berkaitan dengan kepercayaan kuno Simalungun tentang makhluk mitos ular naga bernama Silou Na Bolon dan Panei Na Bolon, penguasa dunia bawah yang menjadi salah satu dewa pujaan orang Simalungun, nama lainnya adalah Tuan Padukahni Aji. Sementara dalam manuskrip Partingkian Bandar Hanopan dijelaskan bahwa nama Silou adalah pemberian Sultan Aceh kepada Tuan Sindar Lela usai bertanya kepadanya tentang penglihatannya terhadap matahari yang telah menyilaukan matanya.

Eksistensi Kerajaan Silou ditandai dengan adanya artefak, makam-makam raja-raja Silou, di Kecamatan Raya sangat banyak ditemukan peninggalan Kerajaan Silou antara lain patung gajah putih di Buntu Parhapuran yang pernah ingin direbut oleh Sultan Aceh dan situs Gundaba, sebuah monumen batu setinggi setengah meter yang menggambarkan seorang kesatria naik kuda, monumen ini menjadi pintu tempat penyimpanan tulang belulang leluhur raja-raja Silou. Masih di sekitar Kecamatan Raya ditemukan juga bukit tempat bertenun yang disebut Buntu Partonunan, bukit tempat bermain catur yang dinamakan Buntu Parsaturan, bukit tempat bernyanyi bernama Buntu Pandodingan, lalu bukit tempat menjemur padi yang namanya Buntu Panjomuran.

Selain itu kita masih bisa menyaksikan bekas pemukiman penduduk Silou, yang terbentang mulai dari Simalungun, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, dan Asahan. Di Simalungun terdapat kampung Silou Buntu, Nagori Silou, Silou Raya, Silou Huluan, Silou Kaheian, Silou Marawan, Silou Dunia, Silou Panribuan, Silou Hanopan, Silou Maraja, Bandar Silou, Silou Panei, Silou Bosar, Silou Manik, Silou Malela, Silou Malaha, dan Silou Bayu. Kemudian di Kabupaten Asahan ada kampung Silou Jawa, Parhutaan Silou, Silou Buntu, Silou Laut, Silou Lama, Silou Maraja, dan sungai besar bernama sungai Silou, hulunya berada di Bandar Pasir Mandogei dan melewati Kota Kisaran terus hingga Selat Malaka. Deli Gid 1938 halaman 64 menceritakan tentang koloni Hindu Jawa, agak ke hilir daerah Bandar Pasir Mandogei terdapat Batu Kinihir (Batu yang dikikir) yang lebarnya sekitar + 20 meter, dekat aliran sungai Silou dan menjadi tempat asal mula berdirinya Asahan. Berdasarkan cerita rakyat batu tersebut adalah hasil kerja orang Jawa, oleh masyarakat setempat disebut Si Lopak Ipon. John Anderson dalam “Mission to the eastcoast of Sumatera” halaman 84 juga mengatakan daerah Bandar Pasir Mandogei pernah juga diduduki bangsa Portugis, terbukti dari adanya peninggalan benteng Portugis di daerah tersebut.

silou-gbr-1

Gambar 1: Situs Gajah Putih peninggalan Raja Silou

 

Catatan Tentang Silou

Residen C. Poortman yang pernah menjabat sebagai controleur di Sipirok dan residen di Jambi tengah mempelajari ekspedisi Pamalayu, dia menerima salinan naskah berjudul “Kerasaan Ibukota Kerajaan Silou” dari Sutan Martuaraja Siregar. Selain itu, Poortman juga mendapat kiriman naskah dari Residen Westenenk (pernah menjadi residen di Bengkulu dan Palembang) yang berjudul “De Hindoe Javanen In Midden en Zuid Sumatera”. Namun, dia sudah terlebih dahulu menemukan nama Indrawarman dalam tulisan peninggalan Gubernur Jenderal Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles termasuk nama Singawarman yang pernah berkuasa di Siak, menurutnya kedua tokoh tersebut memiliki kaitan. Sedang Hegeman, Friedrich, Kern, Krom, dan Brandes tidak pernah menyebutkan nama Indrawarman dalam tulisan mereka.

Poortman tetap melanjutkan penyelidikan tentang sejarah Simalungun berikut penanggalannya, hasil penelitiannya kemudian dirangkum dalam bukunya yang berjudul “De Simeloengeon Bataksche Zelfbestuurders”. Penelitian intensif tentang Silou oleh putera Batak, pertama kali dilakukan oleh Sutan Martuaraja Siregar, dia adalah guru sejarah di Normaal School Pamatang Siantar. Dia pernah mengadakan ekskavasi di situs peninggalan Kerajaan Silou dan Dolog Silou dan juga menemukan nama Indrawarman sebagai leluhur pertama raja-raja Silou. Indrawarman sendiri sebenarnya adalah seorang panglima dari Kerajaan Dharmasraya (Jambi) keturunan Minangkabau yang ikut mendampingi Kebo Anabrang panglima Singosari, setelah Dharmasraya berhasil ditundukkan oleh Singosari pada ekspedisi Pamalayu tahun 1275-1293.

Sutan Martuaraja Siregar menjelaskan bahwa sekitar 30 generasi yang lalu daerah muara Sungai Asahan berhasil direbut oleh tentara Hindu Jawa di bawah pimpinan Panglima Indrawarman, tindakan ini dilakukan dalam upaya mengamankan hasil ekspedisi Pamalayu dari pengaruh Islam yang datang dari Kerajaan Pasai. Selain itu dia juga berhasil merebut daerah Kunto-Kampar, namun pada tahun 1301 berhasil direbut oleh Kesultanan Haru-Barumun. Pasca terjadinya transisi kekuasaan dari Singosari kepada Majapahit akibat kematian Raja Kertanegara (dalam dongeng Simalungun disebut Joko Dolog). Indrawarman memilih kontra dan menolak tunduk pada Majapahit yang didirikan Raden Wijaya. Demi menjaga keselamatan diri dan bala tentaranya, Indrawarman bersama pengikutnya kemudian meninggalkan muara sungai Asahan dan menyingkir ke pedalaman Simalungun melalui aliran sungai Silou.

Pada waktu itu daerah antara sungai Silou dan Bah Bolon didiami kelompok marga Purba, namun keberadaan mereka didesak oleh komunitas marga Sinaga dari Kerajaan Batangiou, akibatnya mereka meminta perlindungan kepada Indrawarman yang memasuki daerah pedalaman Simalungun. Penduduk setempat menyebut mereka Jau Si Lopak Ipon, artinya orang jauh yang bergigi putih, pada masa itu orang Simalungun memiliki tradisi mengikir gigi dengan menggunakan “minak saloh” sehingga mengakibatkan gigi mereka berwarna hitam. C. A. Kroesen dalam bukunya “De geschiedenis van Asahan” menjelaskan bahwa orang Batak di Asahan menamakan orang Melayu dengan kata “Jau”, agaknya orang asing yang pertama mereka temui adalah orang Jawa. Sehingga nama itu kemudian dipindahkan kepada orang Melayu, bahkan Sultan Aceh Iskandar Muda oleh orang Simalungun disebut juga Jau Si Lopak Ipon.

silou-gbr-2

Gambar 2: Tim Komunitas Jejak Simalungun menemukan situs Sigundaba,

sebuah monumen batu setinggi setengah meter yang menggambarkan

seorang kesatria naik kuda, monumen ini menjadi pintu tempat

penyimpanan tulang belulang leluhur raja-raja Silou.

silou-gbr-3

Gambar 3: Hasil sketsa monumen Sigundaba (kiri) dan gambar aslinya

setelah berhasil ditemukan oleh tim Komunitas Jejak Simalungun (kanan).

Sketsa ini dilukis oleh G.L. Tichelman tahun 1921 dan setahun kemudian

Asisten Residen Simalungun dan Karo J. Tideman juga pernah mengunjungi monumen ini.

 

Para pengikut Indrawarman memasuki aneka marga yang ada di tanah Simalungun, yaitu Damanik, Purba, Saragih, dan Sinaga, Indrawarman sendiri setelah mempersunting puteri Raja Nagur, ditabalkan marga Purba. Sedang sembilan orang puteranya kemudian diberikan kebebasan untuk memasuki marga Simalungun sesuai dengan yang mereka kehendaki. Raja Nagur memberikan sebagian wilayah kekuasaannya kepada Indrawarman, pada sekitar tahun 1298 bersama dengan kelompok marga Purba mendirikan Kerajaan Silou yang bernuansa Hindu, yang berpusat di hulu sungai Silou di Bandar Pasir Mandogei Asahan.

Kelompok Sinaga tetap bersikap bermusuhan kepada Indrawarman, mereka bertahan di tepi danau Toba sekitar Girsang Sipangan Bolon, kedudukan mereka sangat sulit ditaklukkan oleh Kerajaan Silou. Indrawarman mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga sampai daerah Kerajaan Habokkou, Buntu Panei, Bandar Pulau, dan sampai Air Joman di Asahan terus ke Batubara, di tanah Simalungun sekarang wilayah kekuasaannya meliputi Pamatang Bandar, Gunung Malela, Gunung Maligas, Bosar Maligas, Ujung Padang, dan sebagian Tanoh Jawa. Kemudian dia memindahkan ibukota kerajaannya ke Kerasaan Pamatang Bandar sekarang (kampung ini berasal dari bahasa Jawa “kerasan”), pelabuhannya berada di muara sungai Bah Bolon bernama Indra Pura. Setengah abad kemudian, pada tahun 1339 tentara Majapahit dipimpin Adityawarman kembali mengadakan ekspedisi ke pulau Sumatera sekaligus menghukum Indrawarman, pasukannya juga berhasil merebut kembali daerah Kunto-Kampar.

Kerajaan Silou berhasil dihancurkan sehingga rakyatnya tercerai berai, Indrawarman yang telah berusia lanjut gugur dalam pertempuran. Kerasaan, Dolog Sinumbah, Pardagangan, dan Indra Pura habis dibumihanguskan oleh pasukan Majapahit. Kelompok marga Sinaga yang bersikap bermusuhan dengan Kerajaan Silou memanfaatkan insiden ini, mereka menuju Kerajaan Silou untuk menjarah harta kekayaan sekaligus menduduki kerajaan itu. Di atas puing reruntuhan Kerajaan Silou, mereka mendirikan Kerajaan Tanoh Jawa, dengan menggunakan nama tersebut mereka menganggap sebagai ahli waris Indrawarman.

Keturunan Indrawarman yang selamat melarikan diri ke Haranggaol, di tempat pelarian ini mereka kemudian membangun kembali Kerajaan Silou dan juga mendirikan kerajaan baru di Raya Kahean di hulu Sungai Ular dan Sungai Padang. Kelompok marga Purba merasa sebagai ahli waris Kerajaan Silou, akibatnya mereka memilih terus bermusuhan dengan kelompok marga Sinaga. Usai mengalahkan Silou, tentara Majapahit meninggalkan Simalungun untuk melanjutkan penyerangan terhadap Kerajaan Haru di muara Sungai Wampu dan juga Samudera Pasai. Haru berhasil ditaklukkan, mereka kemudian meneruskan penyerangan terhadap Pasai, namun misi mereka gagal, ketangguhan pasukan Pasai berhasil memukul mundur pasukan Majapahit dan kembali ke Pulau Jawa. Pada tahun 1365, untuk ketiga kalinya pasukan Majapahit memasuki daerah Simalungun, mereka mendarat di muara Sungai Padang dan merebut Kesyahbandaran Bandar Khalifah dekat Tebing Tinggi. Namun tentara Jawa berhasil dipukul mundur oleh tentara gabungan dari Pasai, Silou, dan Raya Kahean, daerah Kerasaan dan Dolog Sinumbah tetap tertutup oleh semak belukar, sedangkan Indra Pura dan Pardagangan atas perintah Sultan Malaka dibangun kembali.

Sumber primer tentang Silou dicatat dalam manuskrip Partingkian Silou, Partingkian Malasori dan juga Partingkian Bandar Hanopan. Dalam manuskrip kuno Partingkian Bandar Hanopan peninggalan Kerajaan Dolog Silou yang sudah ditransliterasi ke dalam Bahasa Belanda oleh Dr. Petrus Voorhoeve (ahli Bahasa Belanda) dan juga hasil penelitian Asisten Residen Simalungun dan Karo J. Tideman dalam bukunya “Simeloengoen”.

Dikisahkan bahwa Tuan Sindar Lela yang bergelar Pangultopultop nenek moyang Purba Tambak, dari kampungnya di Tambak Bawang pergi berkelana dan mendirikan sebuah gubuk di sekitar aliran sungai Petani dekat sebuah pohon besar bernama tualang. Ketika dia menyumpit burung, dia mendengar suara dari seorang wanita yang menyuruhnya untuk menyelam ke dalam sebuah lubuk yang lokasinya tidak jauh dari tempat itu. Sindar Lela tidak mau memenuhi permintaan wanita tersebut dengan alasan lubuk itu sangat dalam dan dia tidak pandai berenang. Wanita itu terus mendesaknya untuk menyelam sembari berkata “Kalau saya yang menyuruh menyelam, apa yang perlu engkau takutkan”.

Mendengar hal itu Sindar Lela akhirnya memberanikan diri untuk menyelam ke dalam lubuk tersebut. Di dalam lubuk tersebut dia menemukan seekor ular dan meriam yang merupakan saudara dari wanita tersebut. Usai menyelam, wanita tersebut kembali menyuruh Sindar Lela untuk mencabut tumbuhan bernama Padang Lalis, dia lalu mencabutnya dan dengan penuh keheranan di depannya berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Wanita tersebut ternyata adalah Puteri Hijau, namun tuan Sindar Lela tidak bisa mendekatinya, dia pun menanyakan latar belakang wanita tersebut.

Wanita itu malah menjawab, “Saya bukan manusia, jadi engkau tidak perlu mengetahui siapa orang tua saya. Panggil saja saya Puteri Hijau, katakan pada orang lain bahwa saya adalah saudaramu, bila engkau berkenan aku akan menjadikanmu raja besar di daerah ini”. Mendadak muncul pencari rotan warga Kerajaan Nagur di dekat gubuk itu. Pemuda ini juga ikut kagum dengan kecantikan Puteri Hijau dan mengira wanita itu bukanlah manusia melainkan bidadari yang turun dari kayangan. Pemuda ini lalu menyebarkan berita tersebut kepada penduduk, sehingga mereka berbondong-bondong pergi ke gubuk itu untuk menyaksikannya. Tuan Sindar Lela kemudian membawa wanita ini ke Jambur Huda untuk diserahkan kepada Datuk Kejuruan Sinombah. Disuruhlah para pembesarnya yang menjabat sebagai Orang Kaya dan Pamogang, diiringi dengan sejumlah persenjataan dan alat musik, Puteri Hijau dibawa menghadap Datuk Kejuruan Sinombah, namun wanita ini tetap saja enggan untuk didekati.

Tuan Sindar Lela kemudian membawa Puteri Hijau kembali ke gubuknya. Berita ini meluas hingga ke lingkungan Kerajaan Haru yang berpusat di Deli Tua. Raja Haru merasa penasaran dengan berita yang menghebohkan itu, untuk membuktikan kebenarannya, dia lalu mengirim sejumlah hulubalang ke gubuk tempat peristirahatan Tuan Sindar Lela tersebut.

Sesampainya di gubuk, mereka melihat Puteri Hijau dan sangat kagum akan kecantikannya. Utusan Raja Haru itu lalu bertanya kepada Tuan Sindar Lela mengenai Puteri Hijau, dia menjawab bahwa Puteri Hijau adalah saudaranya dan juga belum menikah. Utusan ini lalu menyampaikan permintaan Raja Haru agar membawa Puteri Hijau ke Deli Tua untuk dijadikan permaisuri. Tuan Sindar Lela tidak keberatan bila Puteri Hijau menyetujuinya. Puteri Hijau lalu datang menghampiri mereka dan mengatakan, “Kami adalah orang miskin dan hidup terlantar di hutan, apakah layak menjadi seorang permaisuri? Bila raja kalian memandang layak maka saya akan mengikuti kemauannya.

Dengan diiringi seekor ular dan meriam yang merupakan saudara Puteri Hijau, mereka bersama-sama pergi menuju Deli Tua menemui Sultan Haru. Sesampainya di Deli Tua, Puteri Hijau baru bisa didekati, Sultan Haru lalu menikahinya. Puteri Hijau kemudian mengajukan syarat kepada Sultan Haru agar mengakuinya sebagai saudaranya bila ada orang yang bertanya tentang dirinya. Kepada dua saudaranya, ular dan meriam disuguhkan makanan, tiba-tiba meriam tersebut terbelah dua, ujungnya melayang dan terjatuh di Suka Nalu tanah Karo yang kemudian jadi sesembahan Sibayak Suka Nalu. Nahoda Maharaja pergi menuju Aceh untuk menghadap Sultan Aceh yang pada masa itu diperintah Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Qahhar menyampaikan berita tentang keberadaan Puteri Hijau, Sultan Aceh lalu mengutus Bayur dan Motung ke Deli Tua agar membawa Puteri Hijau ke Aceh.

Sultan Haru menolak permintaan Sultan Aceh ini sehingga mengakibatkan terjadi perang. Pasukan Aceh tidak tidak mampu menerobos benteng Haru yang kokoh, 120 orang dari mereka tewas terbunuh. Mereka kemudian kembali ke Aceh. Sultan Aceh sangat berang mendengar laporan dari kedua utusannya, dia lalu memohon bantuan kepada Sultan Turki Usmani melalui utusannya bernama Nantia Mahalela dan Sabudagar Napitu. Sultan Tuki Usmani menerjunkan panglimanya yang sangat tangguh bergelar Sipitu Jongkal Tonton untuk membantu Aceh. Bersama dengan kekuatan militer yang cukup, Sultan Aceh bersama Sipitu Jongkal Tonton datang ke Deli Tua, Ketika melihat Puteri Hijau, Sultan Aceh tak sanggup menahan daya tariknya sehingga dia bermaksud melamarnya.

Tanpa sepengetahuan Sultan Haru, Putri Hijau menerima tawaran tersebut dengan syarat Sultan Aceh harus bersedia mengangkat saudaranya yaitu Tuan Sindar Lela menjadi raja di tanah Simalungun dan juga turut serta bersamanya ke Aceh. Ketika Sultan Aceh hendak membawa Putri Hijau, Sultan Haru berusaha merintanginya. Akibatnya terjadi konflik, Sultan Deli mengalami kekalahan (Kroesen mengatakan, sekitar tahun 1615 atau 1620 Raja Mahkota Alam Alauddin Syah Johan, Sultan Aceh berkunjung tertarik pada kecantikan Putri Hijau dari Deli, Deli diserang dan direbutnya, yang menurut beberapa saksi Puteri Hijau tewas dalam pertempuran itu, versi lain menyebutkan Putri Hijau berhasil jatuh ke tangannya).

Kekalahan pihak Haru akibat berhasil diperdaya dengan emas sebesar kepala kerbau yang ditembakkan oleh pasukan Aceh sebagai peluru untuk menghancurkan benteng Haru. Sultan Haru tewas dalam pertempuran ini, mayatnya dibuang ke Paya Bendahara, dan pasukan Deli terbunuh sebanyak 120 orang. Setibanya di Aceh, Putri Hijau mendesak Sultan Aceh agar segera memenuhi janjinya menjadikan Sindar Lela sebagai raja dan mencarinya untuk dibawa ke Aceh. Dia juga meminta agar Sultan Aceh memberikan pengawal untuk mendampingi Sindar Lela dan juga persediaan bahan pangan. Sultan Aceh lalu memerintahkan Nahoda Maharaja mencaritahu keberadaan Sindar Lela, dia berhasil menemukannya di daerah Nagur dan membawanya ke Aceh.

Setibanya di Aceh, Puteri Hijau sangat senang melihat kehadiran Sindar Lela, Sultan Aceh lalu memenuhi semua permintaan Puteri Hijau. Di hadapan para pembesarnya, Sultan Aceh didampingi Puteri Hijau mengangkat Tuan Sindar Lela sebagai Raja Silou. Sultan Aceh Sindar Lela menghadiahkan kepadanya 12 orang pengawal dan bahan pangan serta berbagai jenis bibit tanaman. Puteri Hijau menyuruh saudaranya seekor ular bernama Sindei agar mendampingi Sindar Lela dan berpesan agar Sindar Lela mengikuti ular tersebut.

Dia akan membantu menemukan lokasi yang layak bagi Sindar Lela untuk membangun sebuah kerajaan. Ular itupun berhenti, Sindar Lela kemudian mendirikan sebuah rumah di tempat pemberhentian ular tersebut dan menamakannya Silou Bolag dan menjadi pemukiman tertua Raja Marompat yang menjadi pangkal leluhur keturunan Purba Tambak Tualang, penduduk Nagur perlahan-lahan bergabung dengannya.

Tuan Sindar Lela mempersunting puteri Raja Nagur bernama Puang Runtingan Omas boru Damanik dan menjadi permaisuri di Kerajaan Silou, hasil pernikahan keduanya melahirkan Tuan Tariti dan Tuan Timbangan Raja, yang sulung menjadi penggantinya sebagai Raja Silou, sedang adiknya menjadi Raja Goraha (panglima perang) yang berkedudukan di Silou Dunia. Timbangan Raja menikah dengan puteri Sibayak Pintu Banua bernama Bunga Solei dan melahirkan 2 orang putera dan seorang puteri. Dia juga menikah dengan puteri Nagur dari Parti Malayu bermarga Damanik, dari penikahannya ini hanya menghasilkan seorang putera.

(BERSAMBUNG….)