Custom Search

TULISAN RINGKAS: KERAJAAN NAGUR

CIKAL BAKAL SIMALUNGUN

oleh: Masrul Purba Sidasuha

masrul-purba-sidasuha-5

Masrul Purba Sidasuha

nagur-cikal-bakal-simalungun

Patung Pertibi Memeluk Kedua Anaknya – sumber foto: google

Banyak pihak yang berusaha menutupi sejarah kebesaran peradaban Kerajaan Nagur, sebuah kerajaan besar yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Sumatera Utara hingga Aceh.

Info terbaru yang saya peroleh, pada waktu Augustin de Beaulieu seorang jenderal Perancis pada tahun 1619-1622 memimpin ekspedisi bersenjata menuju India Timur, dia mengunjungi sejumlah daerah sekitar Aceh dan semenanjung Malaya. Dia menceritakan bahwa bangsa Cina dan Portugis membeli belerang dari Kerajaan Nagur, dia menyebutnya Nakur dan kawasan penghasil belerang tersebut merujuk pada daerah Dolog Tinggi Raja yang merupakan wilayah Nagur.

Selain itu, dia juga menyebut sebuah penduduk pedalaman yang merdeka dan memiliki bahasa yang berbeda dengan Melayu. Mereka menyembah berhala dan memakan daging manusia, tidak pernah ada tahanan yang ditebus tapi dimakan dengan menggunakan lada dan garam.

***

Nama Nagur pertama kali masuk dalam catatan sejarah yaitu pada almanak (annals) Dinasti Sui (581-618 M) salah satu kekaisaran di Tiongkok penerus dari Dinasti Jin dan peletak dasar bagi kejayaan Dinasti Tang sebagai penggantinya. Almanak tersebut meriwayatkan tentang transaksi perdagangan bilateral antara Nagur dengan Dinasti Sui di perairan sungai Bah Bolon dekat Kota Perdagangan. Sebagaimana hasil penelitian Sutan Martuaraja Siregar, guru sejarah di Normaal School Pematang Siantar, dia melihat Nagur sebagai sebuah Kerajaan Batak yang didirikan orang Simalungun dan menjadi pusat penyembahan berhala (Priests Kingdom of Batak Pagan).

Dengan adanya budidaya rambung merah (Sim: balata/Latin: Ficus Elastica) yang dikembangkan masyarakat Nagur, sehingga mengundang bangsa Tiongkok dari Dinasti Sui untuk membeli hasil sumber daya alam Nagur yang dibutuhkan sebagai kedap air (water-tight) bagi kapal-kapal dagang mereka. Pada waktu itulah pihak Tiongkok mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi Sungai Bah Bolon, sekitar 3 Kilometer dari kota Perdagangan sekarang. Mereka banyak meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun yang kini telah lenyap akibat penggusuran oleh pembukaan perkebunan dan pabrik-pabrik pada zaman Belanda. Tidak jauh dari tempat ini, ada satu lokasi yang pada zaman dahulu jadi tempat ritual pemujaan roh leluhur bernama Dolog Sinumbah, sebelum kehadiran Belanda di tempat ini terdapat banyak kuil dan candi Buddha, ada satu situs candi yang berhasil diselamatkan pada waktu penggusuran oleh pihak Belanda sewaktu mendirikan pabrik dan perkebunan (situs candi ini kini disimpan oleh keluarga marga Purba di Medan).

Nakhoda Persia, Buzurug bin Shahriyar Al-Ramhurmuzi saat lawatannya ke pulau Sumatera pada tahun 955 M mencatat adanya suatu kerajaan bernama Nakus. Demikian juga pada waktu kunjungan Marco Polo (1271-1295), seorang pengembara dari Venesia, Italia pada tahun 1292. Ia menyebut 8 daerah di Aceh dan Sumatera Utara, salah satunya adalah Dagroian yang tidak lain adalah Nagur, yang letaknya berada di Pidie (Aceh) sekarang.

***

Kota Perdagangan sekarang merupakan pusat perdagangan antara suku Simalungun dengan bangsa Cina dan Persia yang memanfaatkan sungai besar Bah Bolon, sehingga kawasan ini disebut Bandar hingga Pasir Mandogei di Asahan. Pada masa itu daerah Bandar dan Pasir Mandogei merupakan pesisir laut yang bersatu dengan laut Cina Selatan, daerah ini menjadi tempat pendaratan para pedagang dan penjelajah memasuki tanah Simalungun.

Masih banyak lagi hasil dokumentasi para penjelajah asing tentang Nagur, namun beberapa pihak berusaha menutupi hal itu agar kebesaran peradaban Simalungun tetap tenggelam ditelan oleh zaman. Oleh sebab itu kita sebagai generasi penerus ahli waris Kerajaan Nagur, Habokkou, Batangiou, Silou, Panei, Siantar, Tanoh Jawa, Purba, Raya, Silima Huta, Bandar, Sidamanik, dan Baja Linggei harus saling bahu membahu menggali sejarah peradaban leluhur orang Simalungun yang kini kian mengalami pengaburan disebabkan kurangnya perhatian dan kepedulian dari para ahli warisnya. Diatei tupa ma

Keterangan gambar: Penulis berada di Museum Simalungun dengan latarbelakang patung dewi pertiwi Simalungun yang memangku 2 orang anaknya.