Custom Search

Suku Simalungun dan Karo

di Deli dan Serdang

oleh: Masrul Purba Dasuha

masrul-foto2

Masrul Purba Dasuha

Daerah Sumatera Timur meliputi Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, dan Labuhan Batu merupakan area penyebaran suku Karo, Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing. Pada masa prasejarah daerah-daerah yang disebut di atas masih berupa lautan luas yang bergabung dengan Laut Cina Selatan.

Akibat maraknya bencana alam mengakibatkan massa air laut mengalami penyurutan dan berubah menjadi daratan luas. Daerah Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, dan Asahan adalah kawasan utama penyebaran orang Simalungun dan juga menjadi pintu gerbang masuknya nenek moyang orang Simalungun. Dua daerah pertama pada masa kolonial disebut Dusun Batak Timur, penyebaran suku Simalungun ke daerah hilir didorong oleh perluasan areal pertanian.

Di Deli, orang Simalungun hidup berdampingan dengan orang Karo, kediaman orang Simalungun di sekitar Medan berada di seputaran sungai Deli dan Babura (berasal dari kata bah Burak). Kemudian di sepanjang aliran sungai Betuan (Bah Tuan) dan sungai Belumai (Bah Lumei) yang mengalir dari Percut Sei Tuan hingga Tanjung Marawa dan bermuara di Selat Malaka. Para penguasa dari kalangan suku Karo di Deli sering disebut dengan Datuk Berempat meliputi Sinembah (marga Barus), Sunggal (Surbakti), XII Kuta Hamparan Perak (Sembiring Pelawi), dan Suka Piring (Sembiring Pelawi). Para datuk ini merupakan golongan bangsawan penerus dari Kerajaan Haru. Kota Medan menurut naskah kuno Hamparan Perak didirikan sekitar tahun 1590 oleh seorang keturunan Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi yang berasal dari Aji Jahe dataran tinggi Karo.

Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah putera Tuan Kita dan cucu dari Sisingamangaraja I, yang menurut pihak Toba sama dengan tokoh Si Raja Hita. Transisi kekuasaan antara penduduk pribumi dengan suku Melayu terjadi ketika Sultan Aceh melalui panglimanya Tuanku Gocah Pahlawan datang menginvasi Haru tahun 1612 dan berhasil menghancurkan benteng terakhir Kerajaan Haru yang berada di Deli Tua hingga luluh lantak dan menamatkan riwayat Haru dalam percaturan sejarah. Sejak itu, daerah Sumatera Timur menjadi daerah taklukan Aceh (vazal).

Untuk mengontrol kekuasaan Aceh di wilayah Sumatera Timur dan mengantisipasi serangan dari pihak Portugis dari Selat Malaka, Sultan Aceh lalu mendelegasikan Tuanku Gocah Pahlawan sebagai wakilnya di Sumatera Timur. Untuk memperkuat posisinya, Tuanku Gocah Pahlawan mempersunting puteri Sunggal adik Datuk Hitam bernama Nang Baluan beru Surbakti. Dengan pernikahan ini membuka peluang baginya untuk mendapatkan dukungan yang lebih besar dari kaum pribumi Karo yang ada di Deli. Pada tahun 1632, atas dukungan penduduk pribumi Karo, Tuanku Gocah Pahlawan mendirikan Kesultanan Deli. Zaman dahulu di daerah Deli dan Serdang, ada lima kekuasaan di bawah pengaruh suku Simalungun, yaitu Urung Tanjung Marawa yang diperintah oleh marga Saragih Sidasalak, kemudian Urung Simapang oleh Purba Silangit, Urung Huta Rih dipimpin Purba Tambak, Urung Sini Purba juga oleh Purba Tambak, dan Urung Sionom Huta.

Sedang Urung Sinembah dan Urung Tanjung Muda dikuasai oleh suku Karo dari kalangan marga Karokaro Barus yang pada zaman dahulu berposisi sebagai Anak Boru dari marga Munthe dan Purba/Tarigan Silangit. Setelah berdirinya Kesultanan Serdang tahun 1723, kekuasaan penduduk pribumi ini berhasil ditaklukkan oleh Sultan Serdang. Untuk mengontrol kekuasaan kaum pribumi di daerah Dusun Batak Timur, Sultan Serdang menunjuk seorang pejabat yang digelari Wakil Sultan Batak Timur Dusun. Adapun wakil sultan yang pertama di wilayah Batak Timur Dusun adalah adalah Tengku Pangeran Haji Muhammad Yasin atau lebih populer dikenal Mat Yasin dan berkedudukan di Partumbukan, Galang.

Di lingkungan Kesultanan Serdang, dia bergelar Pangeran Mangkunegara Negeri Perbaungan. Dia menikah dengan saudari Datuk Tanjung Marawa bernama Puang Zainab Saragih Sidasalak, darinya lahir seorang puteri bernama Tengku Ngah Ramlah (kemudian menjadi isteri Tengku Bendahara Muhammad Nur). Dalam menjalankan tugasnya, Mat Yasin dibantu oleh seorang jaksa dan sejumlah Pemegang (Simalungun: Pamogang), salah seorang di antaranya bernama Orang Kaya Akip. Untuk daerah mulai dari Teluk Mengkudu hingga Dolog (sekarang Dolog Silou) ditempatkan seorang Pemegang bergelar Dolok Pamogang.

Kekuasaan Serdang berlangsung hingga tahun 1886, setelah itu Dolog enggan tunduk di bawah jajahan Serdang. Sepeninggal Mat Yasin, pada April 1887 terjadi peperangan antara penduduk Nagori Dolog (Parbapaan Dolog) bersama dengan Urung Huta Rih melawan penduduk kampung Tarean dan kampung lain di bagian hilir Urung Simapang. Untuk mengatasi kemelut ini, Sultan Serdang Sulaiman Syariful Alamsyah mengutus Raja Ambang dari Kejuruan Santun Sri Diraja Serbajadi didampingi Orang Kaya Tausa Purba Silangit untuk menghentikan peperangan ini dan perdamaian dilakukan di Damak Jambu.

Namun tidak lama kemudian, Tuan Naposo Urung Simapang mendengar berita kerajaannya akan kembali diserang oleh Nagori Dolog, ia lantas mengadakan musyawarah dengan para pembesarnya agar menghadap Sultan Serdang untuk memohon bantuan dan berharap agar Sultan Serdang kembali mendudukkan wakilnya di daerah Dusun Batak Timur. Sultan Serdang lalu menetapkan OK Tausa Purba Silangit (berdomisili di Perbaungan) menjadi wakil sultan di Dusun Batak Timur dan Tanjung Muda. Tempat kedudukannya tetap berada di Partumbukan Galang, sedang Kontrolir Urusan Batak berkedudukan di Damak Jambu. Adapun OK Batak ayah dari OK Tausa datang dari Si Lima Huta, dia turun gunung dan menetap di Serbajadi. Dia meminta persetujuan pada Sultan Serdang untuk mendirikan sebuah kampung di daerah Serbajadi yang dinamai Naga Buntu.

Tetapi kemudian pemerintahannya di kampung tersebut diambil alih oleh bangsawan Denai dari pihak Radin Inu. Setelah usianya lanjut. pada tanggal 1 Desember 1914, OK Tausa meminta berhenti, lalu Sultan Serdang mengangkat anaknya Datuk Abdul Kholik sebagai penggantinya. Namun akibat berselih dengan Kontrolir Urusan Batak, anaknya ini pun diberhentikan. Kemudian Urung Tanjung Muda kembali dimasukkan di bawah pemerintahan Urung Sinembah Serdang. Datuk Abdul Kholik lalu dipindahkan dari Partumbukan ke Bangun Purba. Setelah dia berhenti, wakil sultan untuk Dusun Batak Timur diserahkan kepada jaksa Kupang Nasution. Kemudian setelah dia meninggal digantikan oleh Wan Umaruddin Barus.

(Bersambung….)